This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 29 Oktober 2012

Cinta Atas Nama-Nya :) #1

Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra


Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”

Rabu, 24 Oktober 2012

Bekerja :)


Bismillahirrahmanirrahim..


Bacalah dengan (menyebut)    nama Rabbmu Yang  menciptakan, (QS. Al-'Alaq:1)

Bacalah, dan    Rabbmulah Yang Paling Pemurah,  (QS. Al-'Alaq:3)

 

"Bekerja bukan hanya kebutuhan, tapi juga kewajiban. Berpahala jika dilakukan, berdosa kalau ditinggalkan. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki dari kaum Anshar datang menghadap Rasulullah saw dan meminta sesuatu kepada beliau. Rasulullah saw bertanya, “Adakah sesuatu di rumahmu?”


“Ada, ya Rasulullah!” jawabnya, “Saya mempunyai sehelai kain tebal, yang sebagian kami gunakan untuk selimut dan sebagian kami jadikan alas tidur. Selain itu saya juga mempunyai sebuah mangkuk besar yang kami pakai untuk minum.”


“Bawalah kemari kedua barang itu,” sambung Rasulullah saw. Lelaki itu membawa barang miliknya dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Setelah barang diterima, Rasulullah saw segera melelangnya. Kepada para sahabat yang hadir pada saat itu, beliau menawarkan pada siapa yang mau membeli. Salah seorang sahabat menawar kedua barang itu dengan harga satu dirham. Tetapi Rasulullah menawarkan lagi, barangkali ada yang sanggup membeli lebih dari satu dirham, “Dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah kepada para hadirin sampai dua kali. Inilah lelang pertama kali yang dilakukan Rasulullah.


Tiba-tiba salah seorang sahabat menyahut, “Saya beli keduanya dengan harga dua dirham.”

Rasulullah menyerahkan kedua barang itu kepada si pembeli dan menerima uangnya. Uang itu lalu diserahkan kepada lelaki Anshar tersebut, seraya berkata, “Belikan satu dirham untuk keperluanmu dan satu dirham lagi belikan sebuah kapak dan engkau kembali lagi ke sini.”

Tak lama kemudian orang tersebut kembali menemui Rasulullah dengan membawa kapak. Rasulullah saw melengkapi kapak itu dengan membuatkan gagangnya terlebih dahulu, lantas berkata, “Pergilah mencari kayu bakar, lalu hasilnya kamu jual di pasar, dan jangan menemui aku sampai dua pekan.”


Lelaki itu taat melaksanakan perintah Rasulullah. Setelah dua pekan berlalu ia menemui Rasulullah melaporkan hasil kerjanya. Lelaki itu menuturkan bahwa selama dua pekan ia berhasil mengumpulkan uang sepuluh dirham setelah sebagian dibelikan makanan dan pakaian. Mendengar penuturan lelaki Anshar itu, Rasulullah bersabda, “Pekerjaanmu ini lebih baik bagimu daripada kamu datang sebagai pengemis, yang akan membuat cacat di wajahmu kelak pada hari kiamat.”


Rasulullah saw memberikan pelajaran menarik tentang pentingnya bekerja. Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Islam sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri. Rasulullah saw pernah ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Pekerjaan terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perjualbelian yang dianggap baik,” (HR Ahmad dan Baihaqi).


Sedemikian tingginya penghargaan itu sehingga orang yang bersungguh-sungguh bekerja disejajarkan dengan mujahid fi sabilillah. Kerja tak hanya menghasilkan nafkah materi, tapi juga pahala, bahkan maghfirah dari Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Jika ada seseorang yang keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun di jalan Allah. Tetapi jika ia bekerja untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itulah ‘di jalan setan’ atau karena mengikuti jalan setan,” (HR Thabrani).


Kerja juga berkait dengan martabat manusia. Seorang yang telah bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya akan bertambah martabat dan kemuliannya. Sebaliknya, orang yang tidak bekerja alias menganggur, selain kehilangan martabat dan harga diri di hadapan dirinya sendiri, juga di hadapan orang lain. Jatuhnya harkat dan harga diri akan menjerumuskan manusia pada perbuatan hina. Tindakan mengemis, merupakan kehinaan, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Orang yang meminta-minta kepada sesama manusia tidak saja hina di dunia, tapi juga akan dihinakan Allah kelak di akhirat.


Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, jika seseorang di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian dipikul ke pasar untuk dijual, dengan bekerja itu Allah mencukupi kebutuhanmu, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain,” (HR Bukhari dan Muslim).


Bekerja juga berkait dengan kesucian jiwa. Orang yang sibuk bekerja tidak akan ada waktu untuk bersantai-santai dan melakukan ghibah serta membincangkan orang lain. Ia akan menggunakan waktunya untuk meningkatkan kualitas kerja dan usaha.


Begitu pentingnya arti bekerja, sehingga Islam menetapkannya sebagai suatu kewajiban. Setiap Muslim yang berkemampuan wajib hukumnya bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuannya.


Abu Hanifah adalah seorang ulama besar yang sangat dihormati. Ilmunya luas dan muridnya banyak. Di tengah kesibukannya belajar dan mengajar, ia masih menyempatkan diri untuk bekerja sehingga tidak jelas apakah ia seorang pedagang yang ulama atau ulama yang pedagang. Baginya, berusaha itu suatu keharusan. Sedangkan berjuang, belajar dan mengajarkan ilmu itu juga kewajiban.


Tentang nilai usaha ini, Islam tidak hanya bicara dalam tataran teori, tapi juga memberikan contohnya. Rasulullah saw adalah seorang pekerja. Para sahabat yang mengelilingi beliau juga adalah para pekerja. Delapan sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk surga adalah para saudagar yang kaya.


Kenapa orang yang bekerja itu mendapatkan pahala di sisi Allah SWT? Jawabannya sederhana, karena bekerja dalam konsep Islam merupakan kewajiban atau fardhu. Dalam kaidah fiqh, orang yang menjalankan kewajiban akan mendapatkan pahala, sedangkan mereka yang meninggalkannya akan terkena sanksi dosa. Tentang kewajiban bekerja, Rasulullah bersabda, “Mencari rezeki yang halal itu wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa dan sebagainya),” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi)


Karena bekerja merupakan kewajiban, maka tak heran jika Umar bin Khaththab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk di masjid, sementara sang mentari sudah terpancar bersinar.

Kamis, 18 Oktober 2012

Riset : Menikahlah!

Pernyataan yang sering mengatakan, sendiri jauh lebih baik akhirnya gugur sudah. Sebuah penelitian terbaru mengatakan, dengan menikah, orang jauh lebih bahagia.
Para peneliti dari Michigan State University telah menemukan bahwa orang yang sudah menikah cenderung lebih bahagia selama hidup daripada orang yang belum menikah. Studi ini diterbitkan dalam Journal of Research in Personality baru-baru ini.
Menurut para peneliti, pernikahan tampaknya untuk melindungi terhadap penurunan normal dalam kebahagiaan saat dewasa.
"Studi kami menunjukkan bahwa orang rata-rata lebih bahagia daripada mereka tidak menikah," ujar Stevie C.Y. Yap, seorang peneliti dari departemen psikologi MSU seperti dilansir ScienceDaily baru-baru ini.
Pandangan ini dibuktikan secara ilmiah oleh para peneliti di Michigan State University (MSU) yang dirilis diJournal of Research in Personality.
Mereka menyimpulkan, meskipun kehidupan pernikahan tidak serta merta membuat orang lebih bahagia ketimbang hidup melajang, tapi pasangan yang menikah merasakan kebahagian secara lebih lama. Ini berdasarkan penelitian yang menguji data survei nasional Inggris dari ribuan pasang suami-istri.
"Sementara orang yang melajang akan secara bertahap mengalami rasa kebahagiaan itu menurun seiring dengan tahun berlalu," kata Stevie.
Bahagia dan Berkah
Jika para peneliti hanya menemukan pengaruh menikah hanya pada aspek kepuasan batin semata maka, Islam jauh di atas semua itu.
Dalam banyak firmannya Allah Subhanahu Wata’ala banyak menjanjikan keberkahan atas pernikahan.
“Dan di antara tandatanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istriistri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar Ruum [30]: 21).
Banyak pula riwayat tentang berkah bagi pasangan yang telah menikah, sebagaimana disampaikan Nabiullah Muhammad.
“Apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih dan sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih dan sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih dan sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih dan sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya.” (HR. Abu Sa’id)
“Shalat dua rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga (menikah) lebih baik, daripada 70 rakaatyang diamalkan oleh jejaka (atau perawan).” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
Tentusaja dalam Islam, yang disebut pernikahan adalah antara pria dan wanita. Jika tidak, justru mendapat murka Allah.
Nah, jika Anda sudah layak dan sudah ada jodoh, jangan tunda-tunda lagi, bersegeralah menikah, agar dapat berkahnya.*
Rep: Panji IslamRed: Cholis Akbar

Selasa, 16 Oktober 2012

Salahkan Bila Kita Berbeda?


Fakta keterpurukan remaja di bawah kapitalisme dan sekularisme

Kawan, apa salahnya kita berbeda?
Berbeda bukanlah sebuah kesalahan, namun berbeda menunjukkan jalan yang dipilih dalam hidup.
Kupikir itulah jati diri kita yang sebenarnya.
Saat teman teman seusia kita berlomba-lomba untuk mendapatkan pacar, kita memilih untuk menjaga kehormatan dengan membatasi interaksi dengan lawan jenis.
Saat teman seusia kita memilih untuk menggunakan busana yang menurut mereka up to date, kita memilih untuk menutup auratku dengan jilbab dan khimar.
Saat mereka berteriak histeris saat melihat sang idola, kita memilih untuk menangis merindukan rasulullah yang membuatku merasakan nikmat islam saat ini.
Saat mereka depresi dan galau karena masalah mereka dengan pacarnya, kita memilih untuk peduli terhadap urusan kaum muslimin yang menuntut perhatian kita.

Lalu...
Salahkah kita berbeda?

Hidup adalah sebuah pilihan, bukan begitu kawan?
Pilihan kita akan menentukan hidup seperti apa yang akan kita jalani, bukan begitu sobat?
Kini aku dapat melihat hasil dari pilihan kita dulu. Pilihan kita dan pilihan mereka yang berbeda.
Kita mungkin tak seperti remaja kebanyakan, dan percayalah... aku benar-benar bersyukur karena kita berbeda.

Sahabat, aku pernah mendengar sebuah berita, ada seorang remaja putri yang usianya baru belasan tahun. Usia yang sama saat Usamah bin Zaid menjadi panglima yang membawa Islam ke seluruh daratan dunia. Namun, yang dilakukan remaja putri tersebut sangatlah berbeda. Di usia yang sangat muda dia harus meregang nyawa. Dia meninggal dalam kondisi yang sia-sia, terinjak-injak saat menonton konser sang Idola. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan ayah dan ibunya?
Sahabat, aku tak habis pikir saat melihat berita yang lain. Sembilan orang pemuda datang dari negeri Korea, konser katanya. Sekejap ribuan bahkan puluh ribuan orang histeris rela mengantri berjam-jam demi mendapatkan tiket. Salah seorang dari mereka berderai air mata karena tidak kebagian tiket.
’saya sudah datang ke sini dari jam empat subuh, kebasahan karena hujan, kedinginan mengendarai motor, menahan lapar dan haus untuk mengantri mendapatkan tiket. Nyatanya tiketnya HABIS!’ ujarnya emosi

Ada apa dengan remaja putri di negara ini?
Seberapa pentingnya kah konser tersebut sampai ia berjuang dengan jiwa dan raganya?

Berapa banyak lagi air mata yang harus tumpah sia-sia? Berapa banyak lagi nyawa yang harus hilang sia-sia? Dari berbagai sebab musabab kematian, mengapa remaja kita harus meninggal karena berdesakkan menonton konser, meninggal karena tawuran, menjadi korban geng motor, atau yang paling tidak rasional, meninggal karena mengantri Blackberry?

Aku heran kawan, sudah sepatutnya kita BERPIKIR ULANG!
Pernahkah kau berpikir akan jadi seperti apa kita di hari setelah kematian nanti?
Pernahkah kau sedikit saja merenung tentang hidup yang sudah kau jalani sejauh ini?
Untuk apa sebenarnya engkau dilahirkan ke dunia ini?
Atau minimal, pernahkah kau berpikir akan jadi apa tiga tahun, lima tahun atau sepuluh tahun mendatang? Itupun jika memang hari esok masih menjadi milikmu.

Jika malaikat maut datang pada kita esok hari, sudah berapa banyak bekal dipersiapkan untuk dipersembahkan kepada Sang Illahi? Apakah kita tidak malu menghadap-Nya jika ternyata yang kita bawa hanyalah dosa dan kesia-siaan yang bertumpuk. Tidak takutkah kalian pada peringatan bahwasanya Allah akan mempertanyakan masa muda kita, dihabiskan untuk apa?? Tidak rindukah kalian pada kabar gembira bahwasanya salah satu dari golongan yang akan mendapatkan naungan di akhirat saat tidak ada naungan selain naungan-Nya, adalah pemuda yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid?

Marilah kawan kita bersama-sama menyatukan pandangan, menyatukan hati, serta menyatukan langkah. Untuk menjalankan tugas kita sebagai agen perubahan. Serta turut berjuang untuk mengembalikan kemuliaan Islam. Allahu Akbar!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More