This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 14 Maret 2013

lima wasiat Abu Bahkar ash-shiddiq

Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,
”Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima. Jika tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan memerosokkan kita ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, barangsiapa teguh memegang lima pelita itu maka ia akan selamat di dunia dan akhirat”.

Kegelapan pertama adalah Cinta dunia (hubb al-dunya).

Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan”. (HR Baihaqi)

Manusia yang berorientasi duniawi, ia akan melegalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Untuk memeranginya, Saidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memberikan pelita berupa Taqwa .
Dengan taqwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.

Kedua, Berbuat dosa.
Kegelapan ini akan tercerahkan oleh taubat nashuha (tobat yang sungguh-sungguh).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ”Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya”. (HR Ahmad)
Inilah Al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muthaffifin (83) ayat 14.

Ketiga, Kegelapan kubur akan benderang dengan adanya siraj (lampu penerang) berupa bacaan laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.

Sabda Nabi , ”Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulallah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab, ”Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.”

Keempat, Alam akhirat sangatlah gelap.
Untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak amal shaleh.
Allah berfirman : “orang yang beramal shaleh adalah sebaik-baik makhluk, dan balasan bagi mereka adalah surga ‘Adn. Mereka kekal di dalamnya.” QS. Al-Bayyinah [98] : 7-8

Kegelapan kelima adalah shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) dan yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati.
Dengan keyakinan itu, kita akan lebih aktif mempersiapkan bekal sebanyak mungkin menuju alam abadi (akhirat).

Demikian lima wasiat Abu Bakar. Semoga kita termasuk pemegang kuat lima pelita itu, sehingga dapat menyibak kegelapan dan mengantarkan kita ke kebahagiaan abadi di surga. Aamiin……!!

Selasa, 12 Maret 2013

sepenggal kisah kecerdikan Asma binti Abu Bakar

Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair meriwayatkan dari bapaknya dari neneknya Asma’ binti Abu Bakar bahwa Asma berkata, “Ketika Rasulullah saw berhijrah bersama Abu Bakar, Abu Bakar membawa serta seluruh hartanya yang berjumlah lima atau enam ribu dirham. Lalu kakekku Abu Quhafah – yang telah buta – datang kepadaku dan berkata, ‘Demi Allah sepertinya dia telah pergi dengan dirinya dan seluruh hartanya dengan meninggalkan kalian.’ Asma’ berkata, “Aku menjawab, ‘Tidak, wahai kakek, ayah meninggalkan harta yang banyak buat kami’.”
Asma’ berkata, “Lalu aku mengambil batu dan meletakkannya di tempat biasa bapakku meletakkan hartanya, kemudian aku menyelimutinya dengan sepotong kain, kemudian aku membimbing tangan kakek seraya berkata, ‘Letakkan tangan kakek di atas ini’.” Dia berkata setelah meletakkannya di atasnya, “Bagus, kalau dia telah meninggalkan semua ini untuk kalian, ini cukup bagi kalian.” Asma’ berkata, “Demi Allah, bapakku tidak meninggalkan sepeser pun bagi kami. Aku melakukan itu supaya kakekku tidak banyak bertanya.”
Dari Ibnu Abu Zanad berkata, Asma’ binti Abu Bakar mempunyai sepotong baju peninggalan Rasulullah saw, ketika Abdullah bin Az-Zubair terbunuh, baju itu ikut pergi menghilang.
Asma’ berkata, “Hilangnya baju itu lebih berat bagiku daripada terbunuhnya Abdullah.” Ternyata baju itu berada di tangan seseorang dari kota Syam, laki-laki tersebut berkata, “Aku tidak akan mengembalikannya kecuali jika Asma’ memohonkan ampunan untukku.” Asma’ berkata, “Bagaimana aku memohon ampunan untuk pembunuh Abdullah.”
Akhirnya orang-orang berkata, “Laki-laki itu bersedia mengembalikan baju itu.” Asma’ berkata, “Katakan kepadanya agar datang.” Lalu laki-laki itu datang dengan membawa bajunya diiringi Abdullah bin Urwah.

Asma’ berkata, “Berikan baju itu kepada Abdullah.” Maka laki-laki itu memberikannya. Asma’ bertanya, “Wahai Abdullah, apakah bajunya sudah di tanganmu?” Abdullah menjawab, “Ya.” Asma’ berkata, “Semoga Allah mengampunimu wahai Abdullah (hamba Allah).” Maksud Asma’ adalah Abdullah bin Urwah cucunya bukan hamba Allah laki-laki pemegang baju.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More