This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 24 April 2013

Hijab adalah Pesan Cinta

Muslimah sayang, calon penghuni Surganya Allah. Bidadari dunia yg akan menghantarkan orang-orang yg disayanginya sampai ke Surga..
Ini adalah pesan cinta.. Yang cintanya mulia kepada Allah.. Cintanya besar untuk diri sendiri dan orang lain..
Adalah tentang cinta yg menjaga, menjaga keindahan dirinya, menjaga kehormatan, dan karna patuh juga taat..
Hijab adalah pesan cinta Allah untuk kita. Ia ingin kita terlindungi. Mahal, berharga terpilih. Cantik terjaga terawat. Suci, mulia & santun..
Muslimah sayang yang belum berhijab.. Apalagi yang kamu tunggu? Imbangi hati baikmu dan tunaikan kewajiban :’)
Bukan baju-baju yang dikumpulkan dulu. Tapi ilmu-ilmu agamamu, Jika Allah saja ingin kita dihargai, mengapa kita menghinakan diri?
Muslimah sayang yang sudah berhijab.. Sederhanakan lagi hijabnya, yang di istimewakan itu akhlaknya yah :’)
Kerudung bukan rambut yang diukir sedemikian rupa.. Kerudung untuk melindungi indahnya rambut, yang harus ditutup sesuai syariat
Dan untuk semua muslimah, Berhijablah dengan keteguhan hati, Berhijablah dengan perhiasannya adalah rasa malu..
Berhijablah dengan bangga.. Sabar, ikhlas dan tulus..
Terkadang orang yg terpilih adalah orang yg asing. Bukan karna dijauhi, tapi karna kita yg menjauh dari hal-hal buruk yg melenakan diri
Muslimah sayang calon penghuni surganya Allah.. Pesan cinta ini dikirim dengan penuh cinta..
Semoga kita termasuk hambaNya yang mendengar untuk menerima. Belajar untuk berubah, Dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Aamiin :”)

dari akun twitter @HijabAlila

Selasa, 23 April 2013

Miss World

Lagi heboh-hebohnya bahas Miss World. Gak ada Mass World ya?? Ada juga L-Men..
Kontes yang sudah diadakan dari sejak dulu [saya tidak tahu sejak kapan] , kontes kecantikan, ya~ kecantikan sosok wanita.
Apa yang dilihat? Kalau dari iklan-iklan dan penanaman paksa terhadap mindset masyarakat, ajang ini memandang 3 sudt kelebihan wanita : Beauty, Brain, Behavior.
Well, kecantikan, kecerdasan pemikiran, dan perilaku. So? Kalau yang jadi Miss World apakah dia menjadi orang tercantik di dunia ini pada saat itu? Apakah dia menjadi perempuan paling cerdas? Dan bahkan dia menjadi perempuan dengan attitude terbaik tahun ini?
Jika iya, berarti tiap tahun perempuan punya “teladan” nih„ sok aja ikutin mulai dari fashion, life style, humanis, dan bla-bla-bla nya yang memang sudah disetting.
Semuanya sudah diatur, oleh “mereka”.
Entah mengapa, pertama kalinya saya melihat kontes Putri Indonesia ataupun Miss Indonesia saya melihat bukan tiga B itu yang dilihat.
Semuanya tidak lebih dari beauty aja. Kecantikan secara fisik. Iya gak?
Kalau memang mau lihat kecerdasan, yaa uji pakai soal yang “tidak direkayasa di belakng panggung” lah,
Kalau mau nguji kepintaran, ya pake baju yang tertutup saja, yang diuji kan otak ya„, otak itu di kepala„ bukan di bagian yang lain,
Terkecuali mereka ingin memamerkan otak mereka yang terletak di bagian lain, misalnya di dengkul [makanya pake rok yang belahannya sampe setengah paha].
Kontes Miss World tidak lebih dari peragaan busana untuk model, sekaligus iklan makanan cepat saji kfc atau cfc gitu„ soalnya yang dijual cuman paha-dada aja.. hehehe
Imbasnya, banyak perempuan yang menilai kecantikan hanya sebatas kecantikan fisik, dan persepsinya : boleh dipertontonkan pada masyarakat.
Ini efek dari mainan dan tontonan untuk anak perempuan dari sejak kecil [peer buat ibu dan calon ibu nih].
Dari kecil kita kenalnya sama Barbie, mainan juga barbie. Barbie kan mainan plastik berbentuk perempuan yang fisiknya “sempurna”.
Tapi sayang, mainan barbie gak punya otak, kosong banget isinya„ hihi…

Coba dari kecil anak perempuan dikenalkan pada kisah “Aisyah, Fathimah, Khadijah, Asma, Rabi’ah, Hafsah dan shahabat-shahabat Rasul” pastilah mindset anak akan berubah.
“cantik” tidak selalu bermain pada penampakan kulit. Toh, kaum adam sendiri bilang “cantik itu relatif”
Negeri ini memiliki penduduk yang katanya mayoritas muslim. Berarti muslimahnya juga banyak dong.
Tapi sadarkah wahai sahabat muslimah? Kita cantik kok meski tak ber-make up.
Kita cantik kok meski aurat tak nampak. Kita cantik karena perangai kita. Bahkan kita cantik karena aurat tak nampak.
Muslimah, kita cantik karena akhlak dan hati kita. Percayalah, itu yang menjadi kunci utama kecantikan kita.
Aisyah adalah figur “cantik karena cerdas” | Khadidjah adalah figur “cantik karena mulia”.
Apalah arti penilaian kecantikan oleh sepasang mata kaum adam namun tak halal. Cukuplah mahram kita saja yang boleh melihat aurat.
Kasihan ya calon suami kalau ternyata aurat kita sudah dijamah sama banyak mata “liar”
Kontes kecantikan ini juga mengubah mindset kaum laki-laki mengenai kecantikan perempuan.
Tapi percayalah muslimah, sebaik-baiknya laki-laki yang taat pada Islam, ialaha mereka yang mencintaimu karena akhlakmu..
Allah dan Rasul-Nya telah memperbaiki status perempuan yang dulu dihinakan,
Rasul meninggikan derajat perempuan yang dulu disamakan dengan binatang.
Lantas, setelah kita ditinggikan, haruskah kita merendahkan diri kita dengan menjadikan diri kita seperti binatang?

Minggu, 21 April 2013

Hari Emansipasi.

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Selepas kegiatan, selepas sholat Dzuhur Dilla pergi ke Bandung. Kalau pergi ke Jatinangor pasti macet banget, soalnya daerah Rancaekek kena banjir sehingga jalur menuju Tasik-Garut-Banjar dialihkan jalurnya melalui Tanjung Sari. Macet-semacet-macetnya, ya syudah~ pergi dulu saja.. hehe.
Hari ini Dilla putuskan untuk pergi ke Pasar Baru, bukan karena pengen belanja sih, lagian dompet tidak bersahabat. Pengen maen aja sekalian ke Mesjid Raya Bandung. Yup! Dilla putuskan pergi dengan menggunakan Damri imut jurusan Caheum – Alun-Alun, dan memang lewat ke pasar baru. Ada pengalaman yang membuat Dilla terharu di sini. Damri ini bukanlah Damri yang empuk dan nyaman seperti Trans Metro Bandung ataupun seperti Damri Dipati Ukur – Jatinangor yang ber-AC. Damri ini joknya aja kayak kursi antrean kereta api. Keras tanpa busa, dan pake AG [re : angin gelebug]. Dan tarifnya sangat murah Rp 2000.00 untuk semua kilometer yang dilalui. Kalau dibandingkan dengan angkot, pasti jauh banget kan yaa.
Empat kursi [dua baris] di belakang supir adalah kursi yang dikhususkan untuk lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang cacat. Diutamakan empat kursi ini untuk mereka. Begitu Dilla naik, 4 kursi ini masih kosong. Bis sudah penuh kecuali 4 kursi ini. Begitu Dilla naik, seorang laki-laki [gak tau usianya berapa, tapi kayaknya 20-an deh] mempersilahkan Dilla duduk di kursinya, lantas ia berdiri. Sempat terpikir mengapa 4 kursi itu masih kosong, padahal dia tidak perlu cape-cape berdiri. Lalu Bis melaju perlahan, laki-laki ini masih berdiri meskipun kursi kosong. Beberapa meter kemudian bis mengangkut seorang ibu yang menggendong bayinya, lalu beliau duduk di salah satu dari 4 kursi yang masih kosong. Dan laki-laki ini masih berdiri. Bisa dibayangkan. Bis ini tidak punya pegangan di atas sehingga sulit mencari keseimbangan saat bis melaju sedangkan kita berdiri. Masya Allah. Pemandangan yang unik! Bis melaju, lalu mengangkut sepasang lansia, lalu pasangan lansia itu duduk di dua kursi yang masih kosong. Bis terus melaju, beberapa kilometer belum ada penambahan muatan. Sampai di Stadion Persib, penumpang di sebelahku turun, lalu laki-laki yang tadi berdiri menempati kursi kosong sebelahku. Dengan sedikit penasaran akhirnya aku bertanya “Kak, 3 kursi di depan masih kosong. Kok milih berdiri sih?” Dia tersenyum, lalu menjawab “utamakan untuk lansia, ibu hamil dan menyusui, serta penyandang cacat” Jawabnya. “Kalau tadi saya duduk di sana, lalu ada penumpang baru yang sebenarnya lebih layak, pastilah saya akan malas untuk berdiri karena posisi kita sudah nyaman. Umumnya seperti itu. Saat kita merasa nyaman, kita akan melupakan kepedulian kita pada orang lain. Lagi pula saya masih kuat kalau berdiri. Jadi ya sudah.” Lanjutnya. “Aah~ keren kak! Umumnya yang peduli dan ngasih kursi itu bahkan perempuan, kenapa ya?” “karena umumnya perempuan lebih ber-empati, umumnya sih. Tapi ya bukan berarti semua laki-laki gak peduli..hehehe. Saat saya kecil, ibu dan saya sempat naik bis kota dan penuh sekali. Kami berdiri, padahal di sebelah ada pemuda bersama perempuan muda yang dengan asyiknya duduk tanpa memperdulikan penumpang yang lain. Saat itu ibu saya sedang hamil, walaupun baru 2 bulan dan belum cukup terlihat seperti orang hamil, tapi saya kasihan pada ibu saya. Alhasil dari rumah sampai tempat tujuan kami berdiri, mana jalanan tidak sebagus sekarang kan? Begitu sampai tempat tujuan, ibu saya sakit dan pendarahan. Saya kaget. Untunglah ibu tidak keguguran. Tapi sejak itu saya jadi sedih kalau melihat ada perempuan apalagi ibu-ibu kalau berdiri di bis. Aah~ saya selalu teringat ibu saya. Dalam Islam-pun diajarkan bagaimana kita memperlakukan kaum tua dan kaum tak berdaya kan? Saya mencoba menerapkan itu, dan itulah pesan ibu saya.” “Masya Allah. Keren banget kak.”

 Pemandangan berbeda Dilla dapat saat pulang dari alun-alun. Dengan menggunakan Damri jurusan Cibiru – apa ya lupa , dengan harga Rp 3000.00 dan dapet AC. Kejadiannya sama kayak bis-bis nyaman lainnya yang pernah Dilla tumpangi. Sulit menemukan pemuda yang memberikan kursinya untuk lansia, aah~ jadi keingetan kata-kata laki-laki siang tadi “biasanya kita gak mau pergi kalau kita udah ada di posisi nyaman..” benar saja. Diantara semua penumpang, hanya penumpang perempuan saja yang merelakan kursinya untuk penumpang lansia. Aah~ dimana letak kepedulian kaum muda terhadap kaum tua? Dimana letak kepedulian kaum kuat terhadap kaum yang lemah? Dimana letak kepedulian kaum laki-laki terhadap perempuan? Dimana? Di negeri ini? Tak ada jaminan kepedulian muncul meski ditanam sejak SD dalam kurikulum pendidikan. “Pengamalan Pancasila” halah~ gak ngefek banget menurutku. Buktinya sampai sekarang negeri ini bobrok saja meskipun Pancasila dinilai ideal! Ada yang salah dengan sistem di Negeri Pertiwi ini. Negeri yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan, negeri yang punya tokoh Kartini atas emansipasinya, negeri yang katanya memiliki toleransi dan kepedulian yang tinggi. Bullshit menurutku. Semua hanya simbol dan slogan-slogan iklan saja. Realisasinya nihil. Masih betah dengan sistem seperti ini??

Jumat, 19 April 2013

di tokonya saja peringatannya ambigu

astagfirullah„ sekian lama belanja ke mini market, baru sadar satu hal yang sangat absurd.
pas awal tingkat satu, masih kurang paham dengan barang-barang atau makanan yang dijual di dekat kasir mini market. dan pas tingkat satu baru tahu bahwa di beberapa mini market “alat kontrasepsi” dipajang di samping perpen, cokelat, di dekat kasir. why? pantas saja dulu sempet heran kenapa ada permen dengan box kotak tidak seperti umumnya„ dulu saya tidak tahu itu apa karena namanya-pun samar dan kemasannya menarik ditambah embel-embel rasa strawberry, melo, dll. parahlah„ alat kontrasepsi kenapa pake rasa segala? manis-ataupun engga emang siapa yang rasa? siapa juga yang mau mencium baunya .____.
ditambah lagi tadi ke mini market dengan nama yang sama namum di sekitar rumah. saat antre di kasir„ lalu keluar dari antrean dan memilih cokelat„ setelah memilih mata ini tertuju pada peringatan yang ada di samping jajaran cokelat ini….”penjualan hanya untuk dewasa”…
aneh menurut saya, barang semacam ini mengapa dijual bebas dan mudah sekali didapatkan oleh masyarakat. dan peringatannya juga tidak jelas “untuk dewasa” .. yang dewasa emang udah pasti mereka sudah menikah? kalau anak-anak memang tidak diperbolehkan ya jangan dijual bebas dong! bikin toko khusus kek atau apa gitu..
pantas saja sekarang banyak anak yang menganggap dirinya dewasa„ dan imbasnya “kedewasaan” menjadi memiliki makna yang nyaris negatif..
perlu ditinjau ulang metode penjualan, redaksional peringatan, dan pemahaman kedewasaan…sebenarnya ini diperuntukan untuk “orang dewasa” atau untuk mereka yang ingin “beradegan dewasa”… mohon kepada para penjual„ mohon para “pejabat” yang menduduki jabatan di sana„, kenapa sih perizinan dan penjualan yang kayak gini bisa sangat mudah dan dijangkau masyarakat umum?
jadi teringat bahwa di negeri barat sana, menjelang valentine day, banyak toko-toko cokelat yang menjual cokelat dengan bonus gratisan sebuah alat kontrasepsi… di indonesia, pernah ada album salah satu penyanyi yang juga ngasih gratis alat kontasepsi„ waaah~ indonesia mulai jadi negara barat? atau so-so-an kebaratan? entahlah…
yang menjadi prihatin bagi saya adalah mengapa alat yang “mendukung” free sex ini dijual bebas, peringatan hanya untuk dibeli oleh dewasa„ padahal “dewasa” tidak menjamin kehalalan sebuah hubungan.
toh kalaupun maksud dari “tercipta”nya alat ini adalah sebagai alat pencegah penyakit-penyakit seksual yang bisa mengganggu, okelah alat ini ada. namun, karena tujuannya untuk medis, maka pastikan bahwa penggunaannya juga sesuai petunjuk medis agar bahaya penggunaannya juga terkontrol, dan jelas status penggunanya.. [ya minimal tim medis tau bahwa pasien adalah pasangan suami-istri] …
alat ini menjadi solusi bagi mereka yang menghendaki hubungan bebas tanpa ikatan..dan penjualan alat ini secara bebas semakin mempermudah jalan mereka yang menghendaki hubungan haram…

indonesia yang “katanya” penduduknya ber-katepe-islam paling banyak, tapi seperti ini?

Kamis, 18 April 2013

It’s our Relationship!

Huwaaa~ ngomentarin aktivitas kaula muda memang jadi cerminan sekaligus tamparan buat diri sendiri. Kali ini dilla bahas dikit tentang “relationship”.
Well, banyak [pake banget] remaja-remaja di dunia ini [khususnya di Indonesia] yang seneng pamer relationship di sosial media. Oke, katakanlah facebook atau twitter gituh. Sorry, maksud di sini bukan buat nyindir, tapi  mau sedikit sharing pengalaman “betapa buruknya imej kita gara-gara relationship”.
Ini pengalaman Dilla pas lagi duduk di kelas 2 SMA [sekitar tahun 2010]. Waktu itu Dilla belum begitu kenal twitter, ya~ cuman sekedar user pasif lah. Jadinya lebih sering nangkring di facebook. Dikit-dikit update status, dikit-dikit komentarin status orang,  maen bully-bully-an di facebook. Kalau dipikir-pikir, ngapain coba? Besok juga kita ketemu di sekolah, dan lebih jijiknya kita malah bahas apa yang dipost di sosmed, terus minta klarifikas. Kalau urusan ngebully ya jatohnya malah lanjut ngebully di sekolah. Astagfirullah, betapa alay diriku saat itu.
Alhasil, facebook hanya jadi media eksistensi diri dan untuk mencari sensasi, sepakat? Mungkin tidak. Karena tidak semua orang pengguna facebook seperti ini. Saking isengnya, saat itu Dilla pernah pasang relationship “berpacaran” dengan teman satu kelas, Dina Sonia. Stop! Gue bukan maniak lesbi. Yang saat itu Dilla pikirkan “gue cuman iseng aja”. Titik. Tapi teman-teman tau apa dampaknya? Tiga hari kemudian Dilla dapet message FB dari seorang perempuan. Beberapa hari dia kirim message yang isinya “mau kenalan”. Well„ she is so beautiful, friendly, and funny! Kalau lihat di profile picture sih cantik yaa~. Did u know? She thought i was gay! Dia pikir aku adalah penyuka sesama. Dilla merasa bersalah karena sebelum dia tau kalau Dilla tidak gay, dia curhat masalahnya. Dia bilang bahwa dia memiliki penyakit psikologis yakni menyukai sesama perempuan, dan dia tertarik padaku! Astagfirullah. Akhirnya Dilla menjelaskan keisengan Dilla yang memasang relationship berpacaran dengan perempuan, Dilla jelaskan bahwa itu adalah sebuah keisengan. Dengan dalih “saya berkerudung” dia cukup paham. Astagfirullah, kalau dipikir sekarang, rasanya malu sekali menjadikan alasan “saya berkerudung” sebagai dalih untuk dirinya. Secara otomatis, hari itu juga dilla hapus relationship itu. Kurang lebih 10 hari dilla sempat memasang relationship itu. Pelajarannya, jangan pake media sosial buat maen-maen dan ngebohongin orang.

Oke, sekarang kasusnya yang beneran nih. “Gue pacaran kok, beda jenis dan bukan gay. Terus masalahnya apa kalau gue pasang relationship?” Haah~ namanya juga pacaran, belum seriusan kan? Ntar juga beberapa bulan atau seberapa tahun relationshipnya ganti lagi. Sahabat, sadar-atau tidak, pacaran akan menyibukkan kita. Betapa sering kita disibukkan untuk meng-upload foto-foto dia dengan kita. Kita disibukkan untuk menyapa dia dan memberi semangat pada dia. Lalu, saat kita putus? Kita akan disibukkan untuk menghapus semua file tentang dia, mengganti relationship, dan menghapus semua kata-kata kiat untuk dia. Sibuk banget kan? Terlebih banyak juga yang akhirnya jadi pilih bikin akun baru gara-gara gak mau berhubungan lagi sama mantan. Kalau satu pacar satu akun, berarti udah berapa akun dengan nama kita? Selain itu, gak enak kalau berantem di sosial media. Orang lain yang membacanyapun hanya bisa memberi dua respon : ilfeel sama kita atau dia peduli tapi gak bantuin.  Dan yang paling lucu, kalau lagi berantem di twitter misalnya wall to walll.
Ce: Kamu gak ngerti aku. Kamu jadi nyebelin
Co: nyebelin gimana sih?
Ce: kamu tuh apa-apa ngadu sama temen-temen kamu, sama kakak-kakak kamu, mereka jadi tau masalah kita. Kamu tau kan aku paling gak suka kalau masalah kita dicampuri orang lain?
Hallow~ kalau gak mau orang lain ikut campur, kalau gak mau orang lain tau, yaa jangan diumbar di sosmed laah~. Lu pikir yang jadi follower atau friend kita cuman lu doang? Engga kan~
Sahabat~ relationship itu bukan main-main. Pernah nih ada kasus temen dilla yang ganti-ganti relationship. Hari ini berpacaran, tiga hari kemudian menikah, seminggu kemudian menjalin hubungan tanpa status, terus jadi lajang. Hallow~ gampang banget ganti-ganti sob :) . Yang ada bukan menarik simpati dari orang lain, yang ada hanyalah cibiran-cibiran yang kita dapatkan. Gak percaya? Silahkan buktikan.
Di Indonesia ini orang-orang yang dikenang karena “sensasi”nya akan jauh lebih membekas di orang-orang sekitarnya. Tapi orang-orang yang dikenang atas jasanya hanya akan dikenang pada beberapa tahun itu saja. Selebihnya lupa.
Betapa orang lain akan lebih mengingat aib kita dibanding kebaikan kita. Seperti kata pepatah, “semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”. Ya~ besar sekali kecenderungan kita untuk mengingat aib-aib [ ini manusia secara umum]. Kita sering mengomentari orang dan mengorek keburukan mereka tanpa kita bercermin dan memperbaiki diri. Orang lain sibuk mencari aib kita, dan kita sendiri malah sibuk mempublikasikan aib kita. Nah, jadinya klop kan? Dua-duanya sibuk dan dua duanya untung sekaligus dua duanya rugi!
Sahabat, bukan maksud melarang untuk aktif di sosmed. Jujur, Dilla sendiri cukup sering nangkring di depan laptop sambil buka akun. Tapi kita jadikan akun-akun kita lebih bermanfaat. Jadikan media untuk saling menasehati dan saling mengingatkan. Bukankah itu adalah perbuatan yang akan jauh lebih bernilai?
And about the relationship, I don’t understand why they include them in social media. So far I dont understand what the benefits are given regardless of whether it is true or not”. But if you really are married, maybe the goal is very clear that no one else is bothering you because you already have a husband or wife. These reasons may be acceptable, but other than that, it was just useless in the relationship to include social media. if only for the thrill-seeking, it is not the right way, friend
dwn

Sabtu, 06 April 2013

Ayahku yang Baik #Part1

Salah satu hal yang harus disegerakan oleh seorang ayah, menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , adalah menikahkan anak perempuan. Ia digandengkan dengan membayar hutang dan menguburkan jenazah. Yang satu tuntutan orang hidup, yang satu lagi tuntutanorang mati. Nah, yang soal menikah ini tintutan sehidup-semati barangkali.
“Barangsiapa memiliki anak perempuan yang telah mencapai usia dua belas tahun (usia baligh), kemudian ia tidak bersegera menikahkannya, maka jika anak perempuan itu melakukan suatu perbuatan dosa, dosanya akan ditanggung oleh sang ayah.” [HR Baihaqi, dari Anas ibn Malik].
Sekali lagi, saya tidak hendak mengajari anda untuk berdemo minta nikah pada orangtua. Tetapi berdialog selalu, berdiskusi dengan keduanya di waktu-waktu tertentu, adalah niscaya ketika kita menapaki kedewasaan yang jadi pilihan.
Akan ada masalah saya kira, akan ada benturan-benturan. Itu jika anda tidak segera menaikkan ‘posisi tawar’ di hadapan orangtua. Misalnya saat akan menyegerakan menikah nanti. Tentu anda harus menjelaskan banyak hal. Belum lagi soal walimahan. Anda tak ingin campur-baur tamu laki-laki dan wanita. Anda tak ingin ada musik-musik dan hiburan jahiliyah. Anda tak ingin ada prosesi-prosesi mubadzir yang penuh mitos. Anda tak ingin kedua mempelai berdua dipajang jadi tontonan. Anda tak mau melihat tamu makan sambil berdiri dan berjalan kaki. Itu semua keinginan  anda. Tetapi bagaimana perdapat orangtua? Jika mereka memegang teguh ‘adat-istiadat’, dengan didukung oleh elemen keluarga besar lagi, akan menangkah anda jika sekedar bersuara keras memaksakan kehendak?
Sederhana sebenarnya, kata salah seorang kakak kelas saya. Bagaimana mengkondisikan orangtua dengan nilai-nilai Islam yang kita yakini. Teruslah membiasakan berdialog dengan mereka. Satu kunci pasti, tetaplah intens dan kontinyu dalam frekuensi dialog. Setiap malam, setiap pagi, atau sepekan sekali. Tetapi jangan pernah menunjukkan sok kuasanya kita. Jangan memonopoli pembicaraan. Lebih banyaklah mendengar, meski tetap harus berpendapat. Sedikit demi sedikit, hingga tiba kondisi yang paling nyaman. Atau mungkin dengan cerita, seperti kakak kelas saya itu. Jadi, tiap pulang dari walimahan teman, ia pasti cerita kepada orangtua tentang detail-detail acaranya. Ini, harusnya kita piawai menyisipkan berbagai nilai syar’i.
Tetapi lebih dari itu, orangtua biasanya ingin melihat bukti, bahwa kita memang sudah layak untuk mengemban sesuatu. Bahwa kita memang mengalami aselarasi perbaikan diri – di mata mereka khususnya saat mulai faham nilai-nilai Islam. Bagaimana memberi bukti soal ini? Ah, anda lebih utama untuk menjawabnya.
Mudah-mudahan Allah membantu anda dan saya memahamkan keluarga. Selebihnya, bagaimana jihad anda bersama ayah dan bunda, menghadapi tekanan keluarga besar atau cibiran masyarakat. Sekarang, kita lihat figur para ayah hebat ini. Mungkin ini bisa jadi salah satu bahan diskusi anda bersama orangtua?


salim a fillah dalam buku “agar bidadari cemburu padamu”

Kamis, 04 April 2013

100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978

Well„ siapa yang tidak tahu dengan buku fenomenal ini. Buku yang sering kali digunakan sebagai referensi jika kita mendapatkan tugas mengenai “Kehebatan Rasulullah.” Acap kali kita mengutip “Bahkan Michael Hart menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai manusia paling berpengaruh di dunia ini pada urutan pertama.” Titik. Memang tidak salah dengan pernyataan ini. Seluruh manusia di bumi pasti dapat membuktikan bahwa dalam buku karya Hart ini beliau menempatkan Nabi Muhammad sebagai orang nomor wahid yang berpengaruh di dunia. Banggakah kita sebagai seorang muslim? Bangga pula kah kita dengan predikat yang diberikan Michael Hart ini?
Okelah, mungkin kita ambil kata – sepakat – untuk pernyataan Michael dimana ia menempatkan Nabi Muhammad saw. Sebagai manusia paling berpengaruh di dunia. Lantas, apakah kita juga berarti menyetujui urutan yang dia buat? Sepakatkah kita dengan urutan yang dia susun? Sepakat? Semoga tidak.
Sahabat, entah atas dasar apa, entah apa parameter yang Hart pilih sehingga mucullah 100 nama beserta urutannya. Entah apa sih„ dilla sendiri tidak tahu, coba kita tanya sama sang empunya ide nulis urutan ini. Hehe.
Sahabat tau siapa di urutan ke 2? Tepat! Isac Newton, lalu k-3 ada Nabi Isa. Di urutan ke -4 ada Buddha, urutan 5 ada Kong Hu Cu dan urutan 6 ada St. Paul. Stop. Coba kita berhenti dulu di sini? Nabi Isa di urutan ke-3? Apakah kita setuju bahwa Nabi Isa tidak lebih berpengaruh daripada Isac Newton?
Selain itu, sadarkah sahabat? Hart menempatkan Nabi Musa di urutan 16 di bawah Galileo, Einstein, dan Aristoteles. Why???
Dan, Khalifah Umar Ibn al-Khaththab berada di posisi 51 di bawah Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, Alexander Fleming, William Shakespare, Plato, dan Jengis Khan.
Maha Suci Allah dari segala hal yang menjadikan hamba-hamba-Nya yang terpilih berada di bawah manusia lainnya. Sungguh, boleh jadi kita berbangga dengan urutan pertama yang diisi oleh Rasulullah kita, suri tauladan kita, dan pemimpin kita. Tapi, bagaimana dengan hamba Allah yang – oleh Hart – ditempatkan di bawah manusia yang tidak dimuliakan Allah?
Sungguh, tak peduli dengan segala urutan yang dibuat oleh Hart. Sebaik-baiknya manusia adalah karena tingkat ketaqwaannya, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Tepat Perhitungan-Nya.

Sahabat, jangan sampai kita terlena hanya karena satu pernyataan “Muhammad di urutan pertama dalam buku ini” coba lihat secara keseluruhan. Siapa yang ada di urutan lainnya? Pantaskah Nabi Isa ‘alaihissalam disandingkan dengan Isac Newton? Pantaskah Nabi Musa ‘alaihissalam berada di bawah Aristoteles? Pantaskah Umar al-Faruq berada di bawah Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler?
Dilla coba mengutip dasar pemikiran penulis dalam penempatan urutan ini:
“Buku ini semata-mata berurusan dengan pertanyaan siapa seratus orang itu yang telah pegang peranan mengubah arah sejarah dunia. Dari seratus orang itu saya susun urutannya menurut bobot arti pentingnya, atau dalam kalimat lain: diukur dari jumlah keseluruhan peran yang dilakukannya bagi ummat manusia. Kelompok seratus orang istimewa ini saya susun dalam daftar saya, tak peduli apakah dia seorang bijak bestari atau terkutuk, tak peduli apakah dia kesohor atau gurem, gemerlapan atau biasa-biasa saja. Yang jelas, kesemua mereka adalah anak-anak manusia yang telah memberi bentuk kepada kehidupan kita, meraut lonjong-bulatnya wajah dunia.
Sebelum menyusun daftar urutan, tentu saja perlu ada patokan dasar, siapa yang layak dicantumkan dan atas alasan apa. Patokan dasar pertama sudah barang tentu memang manusianya benar-benar pantas. Tetapi, patokan dasar ini tidak selamanya mudah. Misalnya: apakah pujangga bijak Lao Tzu dari Cina betul-betul pernah hidup di dunia? Apakah bukannya sekedar tokoh dongeng? Bagaimana pula tentang Homer, tentang Aesop yang kesohor dengan julukan penulis kisah dunia binatang? Menghadapi masalah musykil seperti itu, terpaksa saya menempuh jalan dugaan —saya harap bukan duga sembarang duga— karena saya pun menghimpun informasi dari sana-sini seberapa bisa.
Pribadi-pribadi anonim juga di luar hitungan. Boleh jadi penemu roda —jika benar roda dirancang oleh seorang individu— tidak bisa tidak layak digolongkan tokoh yang tak kalah pentingnya dengan mereka yang tercantum dalam daftar, tetapi diukur dari patokan dasar yang saya letakkan, saya sisihkan dari bahan pertimbangan. Tak kecuali penemu cara tulis-menulis.
Dalam penyusunan daftar ini saya bukan semata memilih tokoh paling kenamaan dan kemilau dalam sejarah. Ketenaran, bakat, kedermawanan, tidaklah bisa disamakan dengan pengaruh. Karena itu, nama-nama seperti Benjamin Franklin, Martin Luther King Jr., Babe Ruth, bahkan Leonardo da Vinci tidak termasuk dalam seratus tokoh saya, walau beberapa diantaranya saya cantumkan dalam kelompok “Tokoh-tokoh Terhormat” sesudah Seratus Tokoh. Lagi pula, apa yang saya sebut pengaruh tidaklah mesti selalu berkaitan dengan kelembutan, baik hati, belas kasih. Itu sebabnya keparat jenius seperti Hitler masuk syarat kelompok Seratus Tokoh.
Atas dasar pertimbangan yang dimaksud pengaruh itu mesti mengandung jangkauan mondial, pribadi-pribadi hebat, politikus-politikus lokal tidaklah masuk hitungan. Tetapi bisa juga terjadi —misalnya pada diri Peter Yang Agung dari Rusia— biarpun pengaruh utamanya tertuju pada negerinya sendiri, namun riaknya bisa terasa ke luar batas tanah airnya. Alasan ini mendorongnya bisa masuk daftar saya.”

Wallahu’alam
-          dwn

Senin, 01 April 2013

wanita malam, beda dulu beda sekarang!

Pergeseran moral itu memengaruhi pergeseran istilah. Skrg, wanita yg menjual kehormatan dibilang wanita malam. Karena mereka biasa begadang malam utk menjual diri. Padahal di zaman org shalih,
Wanita malam adalah gelaran terpuji
Karena khusyuknya ibadah di malam hari
Seperti istri Hubaib Abu Muhammad al-Faarisy
Ia dijuluki org dgn nisaa’ul laili
Wanita malam yg biasa begadang di malam hari
Ia shalat lalu bangunkan sang suami,

“Bangunlah wahai Hubaib suamiku..
Alangkah jauh perjalanan kan kita tempuh
Sementara bekal kita masih rapuh
Kafilah orang shalih telah melesat jauh
Sementara kita di sini masih bersimpuh….”

#Rabbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna il muttaqiina imaama

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More