This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 18 Juni 2013

kisah shahabat : Hudzaifah Ibnul Yaman

Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga Muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua orang tuanya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama.  Oleh sebab itu, Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.

Dalam Perang Uhud, Hudzaifah ikut memerangi kaum kafir bersama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam perang itu, Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya syahid oleh pedang kaum Muslimin sendiri, bukan kaum musyrikin. Kaum Muslimin tidak mengetahui jika Al-Yaman adalah bagian dari mereka, sehingga mereka membunuhnya dalam perang.

Rasulullah menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum Muslimin di Madinah ialah kehadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat. Untuk menghadapi kesulitan ini, Rasulullah memercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman—dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang.

Dengan memercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin. Karena inilah, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan “Shahibu Sirri Rasulullah” (Pemegang Rahasia Rasulullah).

Pada puncak Perang Khandaq, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya. Beliau mengutus Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.

“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh. Pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti. Dan laporkan kepadaku segera!” perintah beliau.
Hudzaifah pun bangun dan berangkat dengan takutan dan menahan dingin yang sangat menusuk. Maka, Rasulullah berdoa, “Ya Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah.”
“Demi Allah, sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa,” tutur Hudzaifah.
Tatkala ia memalingkan diri dari Rasulullah, beliau memanggilnya dan berkata, “Hai Hudzaifah, sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali kepadaku!”
“Saya siap, ya Rasulullah,” jawab Hudzaifah.
Hudzaifah pun pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Ia berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah anggota pasukan mereka. Belum lama berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.
“Hai, pasukan Quraisy, dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu, telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”
Mendengar ucapan Abu Sufyan, Hudzaifah segera memegang tangan orang yang di sampingnya seraya bertanya, “Siapa kamu?”
Jawabnya, “Aku si Fulan, anak si Fulan.”
Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai, pasukan Quraisy. Demi Tuhan, sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu, berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”
Selesai berkata demikian, Abu Sufyan kemudian mendekati untanya, melepaskan tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangnya melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, tentu ia akan membunuh Abu Sufyan dengan pedangnya.
Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya, sampai kepada seorang khalifah sekali pun. Bahkan Khalifah Umar bin Khathtab, jika ada orang Muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?” Jika mereka menjawab, “Ada,” Umar turut menyalatkannya.

Suatu ketika, Khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, “Adakah di antara pegawai-pegawaiku orang munafik?”
“Ada seorang,” jawab Hudzaifah.
“Tolong tunjukkan kepadaku siapa?” kata Umar.
Hudzaifah menjawab, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”
Walau demikian, amat sedikit orang yang mengetahui bahwa Hudzaifah Ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dainawar, Hamadzan, dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum Muslimin dari genggaman kekuasaan Persia. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Alquran, sesudah kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum Muslimin.
Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya pada tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,”Pukul berapa sekarang?”
Mereka menjawab, “Sudah dekat Subuh.”
Hudzaifah berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.”
Ia bertanya kembali, “Adakah kalian membawa kafan?”
Mereka menjawab, “Ada.”
Hudzaifah berkata, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalam pandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”
Sesudah itu dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku lebih suka fakir daripada kaya, aku lebih suka sederhana daripada mewah, aku lebih suka mati daripada hidup.”
Sesudah berdoa demikian, ruhnya pun pergi menghadap Ilahi. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya.

Kamis, 06 Juni 2013

From Bandung-Cikijing with Love #part2

Setelah kakek tadi turun di daerah Kadipaten-Majalengka, sekarang Dilla berinteraksi dengan seorang ibu muda yang duduk di sebelah kiri Dilla. Beliau penumpang yang naik dari daerah Sumedang [tapi Dilla lupa tepatnya dimana]. Suhu di mobil sangat panas dan gerah. Dia menggendong bayi yang masih sangat kecil. Bayi ini tertidur di pangkuannya. Aah~ lucu sekali melihat bayi usia 6 bulan >.< Ibu muda ini bersama suaminya. Uhuk! Nampaknya mereka ini pasangan muda. Sang ibu mengusap keringat-keringat kecil yang muncul di leher bayinya. Melihat ibu ini mengelap dengan kain, Dilla tawarkan tissue basah dan tissue kering untuknya. Sebenarnya Dilla gak tau sih, tissue basah itu boleh atau tidak untuk kulit bayi di bawah satu tahun. Tak ada keterangannya, makanya Dilla keluarkan. Setelah mengelap keringat bayinya, ibu muda ini bertanya dari mana aku. Dia sangka aku anak pesantren di daerah Rancaekek. Penampilanku tak seperti anak kuliahan. Dia sangka usiaku 18 tahun [gak apa lah yah disangka muda]. Melihat pasangan mudah ini, sempet iri. Hihihi. Satu hal yang membuat Dilla tercengang. Ibu muda ini berusia 20 tahun lewat. Dia lahir bulan Juli 1992. Yup! kita hanya selisih 3 bulan ternyata. Suaminya berusia 23 tahu. Uhuk. Uhuk. Pasangan muda ternyata. Aah~ sayang sekali tak banyak kisah yang bisa Dilla – curi – dari pasangan muda ini.
Masalah jodoh, rezeki, kematian, dan segala sesuatu yang telah Allah tuliskan untuk kita memang tak ada satupun yang tahu kecuali Dia Yang Maha Mengetahui.

Pelajaran dari dua obrolan di bis ¾ Bandung-Cikijing hari ini : kita tak perna tahu kapan kita mendapat giliran. Usia tak menentukan kita meninggal duluan, usia tidak menentukan kapan kita bertemu dengan jodoh kita. Masalah kapan dan siapa, cukuplah Allah yang Tahu. Malaikat tak akan salah mencabut nyawa manusia. Begitupun jodoh kita, dia tak akan salah menyapa.
Majalengka, 05 Juni 2013 [ditulis pada 06 Juni 2013]

dwn

From Bandung-Cikijing with LOVE #part

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Hari ini saatnya perbolangan menuju Majalengka. Pagi ini ada ujian Anfisko [red : analisis fisiko-kimia] di Auditorium D6 mulai pukul 08.00-09.30 . Ujiannya…ehem! susah. .___. Apapun hasilnya, semoga tetep bisa diperbaiki, hihi. Aamiin. Setelah ujian, seharusnya hari ini jadwal kurve praktikum Fitokimia. Namun Dilla harus pergi ke Majalengka karena hari ini kakak pertama akan melaksanakan akad dan resepsi pernikahannya. Setelah izin ke dosen dan asisten laboratorium, akhirnya Dilla pergi menggunakan mobil ¾ jurusan Bandung-Cikijing.
Hap! Dapet kursi di jok belakang. Baru ada satu penumpang yang menempati jok belakang, sedangkan jok lainnya sudah terisi. Sebenarnya gerah sekali duduk di belakang, tapi ya sudahlah, syukuri saja. Kini Dilla bersama seorang bapak-bapak dengan usia yang sudah sangat matang. Mau tebak berapa usia beliau? 83 tahun. Masya Allah. Supaya terdefinisi, Dilla definisikan dengan kata – kakek – [walaupun saat berinteraksi Dilla panggil beliau “bapak”]. Kakek-kakek ini menggunakan sarung dan menenteng sebuah keresek kecil di tangan kanannya. Dilla bisa menebak apa yang ia bawa, dan ternyata tebakan Dilla tepat.
Mobil melaju melintasi ruas jalan Jatinangor-Tanjung Sari. Akhirnya Dilla berbincang dengan kakek ini. Dilla tanyakan dari mana beliau dan hendak kemana. Agak sulit memang karena harus mengulang pertanyaan yang sama. Dilla faham sifat alami manusia yang semakin tua, dengan panjang dan jumlah telomer yang semakin berkurang maka kemampuannya pun akan semakin berkurang. Akhirnya dengan suara serak dan sedikit kurang jelas beliau bercerita. Dari sepanjang perbincangan, inilah kisah yang ia bagikan hari ini pada seorang penumpang tengil yang mengajaknya berbincang.

Kakek berangkat dari Bandung tepatnya dari Leuwi Panjang dan beliau hendak pergi ke Majalengka untuk pulang. Kakek ini membawa keresek berisi kantong penampung urine. Dia sedang menggunakan kateter. Tanggal 02 Juni kemarin anak ketiganyanya menikah di usia kepala 3. Beliau bercerita bahwa beliau menikah di usia yang kelewat matang. Istrinya saat itu memiliki selisih usia cukup jauh dengan beliau. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Istrinya telah kembali setahun yang lalu. Setelah melahirkan anak ketiga, istinya mengalami kecelakaan pabrik yang menyebabkan kakinya harus diamputasi. Maka sejak saat itu istrinya menggunakan kursi roda, tidak memilih tongkat untuk membantunya berjalan. Anak pertama beliau meninggal di usia belia akibat penyakit kanker otak. Sungguh iba mendengar penuturan kisah beliau, betapa getir dan sulitnya kehidupan yang telah beliau jalani. Anak kedua adalah perempuan yang sekarang telah menikah, dan anak kedua ini sekarang menjadi seorang bidan di Majalengka. Anak ketiga beliau adalah laki-laki yang bekerja sebagai seorang guru di Bandung. Anak ketiga merasa memiliki tanggung jawab terhadap sang Ibu. Selain kakinya yang hampir lumpuh karena jarang digerakkan, sang ibu juga menderita kanker. Anak ketiga ini menggunakan semua gajinya untuk pengobatan ibunya, makanya dia belum terpikirkan untuk menikah saat itu. Segala ikhtiar telah dicoba untuk kesembuhan ibu, namun Allah berkehendak untuk memanggilnya setahun yang lalu. Akhirnya selama satu tahun sang anak menabung untuk biaya pernikahan, dan alhamdulillah ia menikah 02 Juni kemarin.
Sekarang kakek ini tinggal bersama anak kedua beserta menantu dan cucu-cucunya. Beliau menceritakan betapa dia bahagia karena anak-anaknya sangat mencintai kedua orangtuanya. Segala usaha telah ditempuh demi kesehatan sang ibu, anak kedua meskipun harus menampung beliau, tapi selalu memperlakukan beliau dengan penuh hormat dan kasih sayang. Masya Allah.
Beliau berpesan pada Dilla agar Dilla selalu menyayangi orangtua dan berusaha membahagiakannya. Dengan penerimaan kita dan kasih sayang kita di usia senja mereka, itu menjadi bagian dari kebahagiaan untuk mereka. Banyak kisah orang-orang kaya yang memilih memasukkan orangtuanya ke panti jompo karena mereka terlalu sibuk mengurusi orangtua. Sangat disayangkan.
Pesan kedua yang beliau sampaikan jika nanti berrumah tangga, akan banyak perbedaan yang muncul jika dibandingkan saat awal perkenalan. Jika kita tidak bisa menerima kekurangan pasangan kita tentulah akan banyak muncul kekecewaan kita terhadap pasangan kita. Tapi terimalah. Pasangan kita adalah cerminan dari diri kita sendiri. Hidup berrumah tangga sangatlah rumit namun sangat indah. Banyak masalah yang harus dihadapi bersama, ditanggung bersama, dan dijawab bersama. Beda saat masih membujang, semua dihadapi sendiri dan orangtua. Tapi setelah menikah, kedewasaan akan terakselarasi dengan sangat cepat. Kakek sendiri sempat menyesal mengapa menikah di usia terlalu matang, tapi ya ini sudah terjadi. Allah punya rencana yang indah. Meskipun menikah di usia tua, tapi dia mendapatkan istri yang baik, cerdas, dan penuh kasih sayang.
Setelah asyik bercerita, suasana hening. Dan Dilla ketiduran. Haduh..maaf yah pak. Saya sangat tidak sopan .___.
Saat beliau bercerita, Dilla jadi teringat papah. Papah juga semakin tua, papah juga sekarang lagi dipasang kateter. Yaa Allah~ beri hamba waktu untuk bisa membahagiakan kedua orangtua hamba sebelum Engkau memanggil mereka, atau sebelum Engkau memanggilku.
Terima kasih untuk kisahnya hari ini pak. Maaf Dilla tidak menanyakan nama bapak. Semoga bahagia kehidupan bapak.. Aamiin.

Sumedang, 05 Juni 2013 [ditulis 06 Juni 2013]
dwn

Minggu, 02 Juni 2013

Jawaban Kebaikan #1

Kebaikan adalah…
  1. Iman

“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.”
Inilah pondasi keimanan, akar tauhid : AQIDAH. Kebaikan sesorang terlihat dari keimanan yang melahirkan amal sholeh, bukan keimanan yang mampu menggerakkan kehidupan. Iman kepada Allah adlaah titik perubahan dalam kehidupan manusia. Allah adalah al Ma’bud – Hanya kepada Allah manusia menhambakan diri. Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in.
Oleh karena itu, seorang manusia yang beraqidah Islam memiliki beban tugas untuk melaksanakan tahrirunnas min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadatillaah – membebaskan manusia dari penyembahan sesama manusia kepada menyembah Allah semata.
Sangat jelas apa yang diuraikan oleh Syaikh Sayyid Sa’id as-Sayyid Abdul Ghanny dalam Al ‘Aqidatush Shafiyah Lil Fiqatin Najiyah bahwa aqidah Islamiyah bertujuan untuk:
a.       Mengikhlaskan niat dan ibadah hanya kepada Allah.
b.      Membebaskan akal dan pikiran dari berbagai konsep dan pemikiran destruktif.
c.       Menenangkan diri dan pikiran.
d.      Menyelamatkan tujuan hidup dan amal perbuatan dari penyimpangan ibadah atau muamalah.
e.      Menumbuhkan semangat dan kesungguhan dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan.
f.        Proses pembentukan umat untuk meneguhkan semangat beragama.
g.       Sarana untuk menyampaikan diri pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Iman dimulai dari hati, at-tashdiiqu bil qalbi. Hati yang beriman senantiasa dipenuhi kekuatan ketundukan, kepasrahan, pengabdian, dan penhambaan yang tulus dan iklas kepada Allah. Hati jenis ini mampu menangkap sinar terang hidayah Allah dan memiliki tanda khusus diantaranya:
a.       Mahabbatullah, yakni hati yang beriman dari hati yang selalu mencintai Allah (al-baqarah ayat 165 | at-Taubah ayat 24)
b.      Al Inabah wat Twakkul ‘Alallaah, yakni hati yang beriman adalah hati yang senantiasa mendorong pemiliknya untuk selalu kembali kepada Allah dan bergantung kepada-Nya (Ali-Imran ayat 159-160 | an-Nisaa ayat 81 | ath-Thalaq ayat 3)
c.       Asy-Syauq Ilallaah, hati yang beriman selalu merindukan perjumpaan dengan Allah (al-Kahfi ayat 110)

d.      Al Ithmi-nan Ma’allaah, yakni hati yang senantiasa mendorong  pemiliknya untuk selalu tenteram bersama Allah (ar-Ra’d ayat 28 | Yunus ayat 7-10)
e.      Al Hirshu ‘Alal Wakti, yakni hati orang yang beriman senantiasa penuh dengan pemanfaatan waktu yang maksimal (al-‘Ashr ayat 1-3)
f.        Al Ihtimam bil Kaif, yakni orang-orang yang mempunyai hati yang beriman dan melaksanakan amal tidak hanya terrumpu pada kuantitas amal, namun pada kualitas amalnya (al-An’am ayat 163 | al-Mulk ayat 2)
g.       Al Hirshu ‘Alath Tha’ah, yakni hati yang selalu mengikat diri kepada ketaatan pada Allah (al-Baqarah ayat 285 | ali-Imran ayat 173)
h.      Al Ittijah IIallaah, berorientasi hanya menharapkan ridho Allah (al-A’raf ayat 28-29 | Yunus ayat 1054-109)

lagi mager di kosan karena nunggu balasan email dari Gina untuk revisi artikel Ilmiah Praktikum Biokimia, tiba-tiba memperhatikan buku lama milik kakak yang sudah setahun bertengger di rak buku di kosan.  Sempat tertegun ketika membaca (lagi) bab awal buku ini. halaman awal begitu mendobrak…setahun yang lalu…aah~ dulu aku hanya sekedar membaca mungkin, makanya aku tak begitu paham. mudah-mudahan saat ini Dilla sudah selangkah lebih paham. Tulisan di atas adalah tulisan pada halaman 4-6 dalam  buku “Cerdas Emosi dengan Al-Quran” karya Ahmad Humaedi
Jatinangor, 02 Juni 2013

Sabtu, 01 Juni 2013

Mistery of the Lost Shoes

Bahkan di tempat sujudpun masih ada orang yang dengan sengaja mengamalkan sebuah dosa„ astagfirullah…
Bismilahirrahmaanirrahiim.
Hari ini 01 Juni 2013 Dilla pergi bertemu dan main bersama dua orang sahabat semenjak SMP, Ajeng dan Hilda. Setelah sekian lama, akhirnya bisa bertemu juga yaa~ :’)
Jam 10.30 janjian ketemu di sebuah mini caffe “sop duren” di daerah panembong. Lama kami saling bercerita di sana. Utamanya sih hari ini hari curhatannya Hilda – perkara kecengan dan mantannnya [lekas move on yah cantik~ ]. Setelah lama berbincang-bincang, dan sudah tiba waktu untuk menyegerakan sholat dzuhur, akhirnya kami pergi ke Mesjid Agung Cianjur. Meskipun hujan rintik-rintik, suasana romantis di bawah tetesan sang awan, kenhangatan di bawah langit tetap menyelimuti kami saat menanti angkot. Setelah mendapati angkot, kami pergi ke Mesji Agung Cianjur, lalu melaksanakan sholat. Selepas sholat kami beranjak keluar,  mesjid dan.. o-ow. Where is Ajeng’s shoes? Ajeng sempet bingung kemana sepatunya. Sepatunya tadi diletakkan di sebelah sepatu Dilla. Tapi sekarang sudah raib entah kemana. Sempat Dilla dan Hilda bantu mengecek di sekitar, namun tak ada. Lalu kami menanyakan kepada beberapa anak disana, tak ada yang tahu. Fiks. Hilang. Lalu Dilla tawari Ajeng untuk memakai sendal jepit semacam swallow. Awalnya Ajeng masih agak menggerutu kemana sepatunya. Menurutku memang wajar ia menggerutu, tapi tak menyelesaikan apapun. Lalu kutawari lagi apakah dia mau pakai sendal jepit, akhirnya dia bersedia karena mungkin sudah bingung mau pergi pake apa. Akhirnya Dilla dan Hila pergi ke pasar tradisional yang letaknya memang sangat dekat dengan Mesjid Agung Cianjur. Meskipun pasar becek, tapi demi teman tak apalah. Setelah mendapatkan sendal skyway ukuran 9 ⅟berwarna oranye, akhirnya Dilla dan Hilda menemui Ajeng yang masih pasang muka memelasnya mencari sepatu yang baru ia beli itu. Aah~ kesabaranmu diuji di sini kawan ˆ⌣ˆ . Lalu kami berikan sandal yang baru dibeli. Sebenarnya pengen ketawa lihat ekspresi Ajeng yang sangat polos saat memakai sendal sambil berkata “perginya kece, pulangnya gembel.” Lalu dengan style casual barunya Ajeng, kami bertiga pergi ke arah Pasundan. Niatnya mau hunting jajanan anak-anak SD, tapi apa daya perut akustikan, akhirnya kami pilih mencari makanan berat cepat saji. Bakso. Dan kisah unik juga muncul di sini. Mulai dari pedagangnya yang cuek, pelayan yang tidak mencatat pesanan banyak orang. Percaya gak percaya, pelayan bakso ini pasti pada lulus test IQ dan otak kanan-kirinya mungkin seimbang. Karena mereka mengingat semua pesanan banyak orang, tanpa mencatatnya sama sekali. Pelayan Pizza Hut aja mesti catet kan ya? Huh! Mereka lebih jago dibanding pelayan Pizza Hut sekalipun..
Terimakasih telah menemani jiwa yang sepi! [ ahaha, alay!]
Terimakasih telah berbagi kisah dan tawa hari ini. Lembaran baru di bulan Juni.
Buat Hilda, lekas move on yah.. Rajin-rajin ikut mentoringnya ˆ⌣ˆ
Buat Ajeng, sabar yah. Insya Allah dapet pengganti sepatu yang lebih baik. Tetaplah bersyukur karena kita masih memiliki kaki untuk dipakaikan sepatu atau sandal. Bagaimana jika kaki kita diambil? ˆ⌣ˆ
Terima kasih Ajeng dan Hilda. Ditunggu jalan-jalan selanjutnya yaa~ ♡ 


lain kali aku yang ke UPI deh ♡ 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More