This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 03 Juli 2013

"tak ada alasan untuk meninggalkannya"

bismillahirrohmaanirrahiim
tahu kisah kesetiaan Nabi Muhammad terhadap Khadidjah? pasti ini kisah paling romantis sejagad.
pernah mendengar kisa Rome-Julliet? pernah mendengar kisah Hachiko?
dalam kisah-kisah yang tidak kita saksikan secara langsung, dilla mendapat suatu pelajaran penting dari seorang bapak. bagaimana ia memahami makna “kesetiaan”. walaupun kisah ini tidak dapat disandingkan atau dibandingkan dengan kisah Nabi Muhammad atau Sayyidina Ali. tapi cukuplah kisah ini diberi penghargaan sebagai kisah yang jauh lebih romantis dibandingkan kisah Romeo-Julliet.
tengah terduduk sepasang suami-istri. usianya sudah renta, tapi mereka membuatku cemburu. bagaimana tidak? tatapan kosong dari sang istri dibalut genggaman hangat dari sang suami yang menatap dalam sang istri. di Rumah Sakit Umum Daerah Cianjur. saat dilla tengah menunggu kehadiran dokter di poli paru, dilla duduk di dekat kumpulan pasien poli jiwa. yup, di rumah sakit ini, poli jiwa - poli psikologi - poli paru dalam satu tempat yang sangat berdekatan.
satu kursi di sebelan bapak ini akhirnya dilla tempati. sedikit basa-basi, akhirnya bapak ini sudi menceritakan kisahnya padaku. sejujurnya kisah serupa pernah dilla dapati dari seorang teman, hanya saja terasa berbeda mungkin saat “sang lakon” bercerita secara langsung.
usia bapak ini 66 tahun. usia pernikahan mereka sudah menginjak usia 45 tahun. hampir setiap minggu bapak menemani sang istri berobat. istrinya tidak mengidap penyakit “gila”, hanya saja sudah hampir 20 tahun istrinya depresi. kisahnya, beliau menikah di usia 21 tahun, sedangkan istrinya saat itu berusia 19 tahun. awal-awal pernikahan istrinya mengandung, namun keguguran. sempat hamil lagi, namun keguguran lagi. ujian awal-awal dalam pernikahan mereka adalah kondisi kesehatan istri yang masih rawan untuk diamanahi “bayi”.

lama mereka berusaha, sang suami juga menemani istrinya berobat guna mempersiapkan kondisi fisik menuju kehamilan. namun masalah muncul lagi. “pembersihan” kedua pasca keguguran ternyata tidak cukup bersih, sehingga menyebabkan gangguan pada rahim istri. mau tak mau, rahim istri harus “diangkat” demi keselamatan beliau. ujian yang sanga berat bagi pasangan ini. dapat dipastikan bahwa sang istri tidak dapat mengandung dan tidak dapat melahirkan keturunan. sebagai seorang perempuan, ia merasa dirinya tak sempurna dan tak dapat membahagiakan suami. beberapa kali ia meminta agar suaminya menikah lagi, atau menceriakannya saja. ia faham bahwa kebutuhan biologis sang suami harus terpenuhi, dan ia faham bahwasannya dalam suatu rumah tangga pasti sangat mengharapakan kehadiran anak di tengah-tengah mereka.
kepasrahan sang istri, rasa cinta dan kasih terhadap suaminya inilah yang menyebabkan sang suami semakin mencintai sang istri. tak ada sedikitpun niatan dalam hatinya untuk meninggalkan sang istri. akhirnya sang suami memutuskan untuk tidak menceraikan ataupun menikah lagi. saat menginjak usia 40 lagi-lagi mereka diterpa cobaan. isu dari tetangga mengenai tingkah sang suami di tempat kerjanya membuat sang istri sedih. sebagai seorang guru yang berinteraksi dengan banyak orang, isu semacam ini sangatlah mudah muncul.. beberapa kali sang suami menceritakan pada istrinya mengenai kondisi sebenarnya. sekitar 2 tahun gosip ini merebak, namun akhirnya padam juga. sayangnya tak lama sejak saat itu, sang istri semakin murung dan sedih,. keterlarutan dirinya dalam kesedihannya membuat ia depresi.
kini giliran suami yang sedih dua kali. setelah diterpa isu, sekarang istrinya depresi. jikalah nafsunya yang berkata saat itu, pastilah sang suami akan meninggalkan sang istri. "sudah tak dapat mengandung, depresi pula. apa yang bisa diandalkan?" kurang-lebih seperti itulah jika “nafsu” yang berkata. namun rasa cintanya berkata lain. dia memutuskan untuk terus menemani istrinya sampai Alloh memutuskan untuk memisahkan. sang suami akhinya memutuskan untuk melakukan operasi vasektomi. ia khawatir jika “syahwatnya” dapat merusak rasa cintanya pada sang istri. makanya ia memilih untuk melakukan operasi ini.
jujur, bisa jadi laki-laki seperti ini hanya ada 1 diantara 10000 laki-laki. jarang ada laki-laki yang berkorban sebesar ini pada orang yang ia cintai. dan kini, lebih dari 20 tahun sejak operasi, sang bapak masih setia menemani sang istri demi kesembuhan jiwanya.
inilah makna “setia” yang bapak ini pahami.tak ada kekecewaan atas ketidaksempurnaan, tak ada perpisahan atas ketidakmampuan, tak ada  niatan untuk menyakiti ata sebuah kekurangan.
obrolan kami tiba-tiba harus dihentikan saat nama sang istri (ibu) dipanggil. “Ibu Aminah” ujar sang asisten dokter. lalu bapak ini memapah sang istri berjalan perlahan memapah sang istri memasuki ruang pemeriksaan. ia tersenyum padaku…

Cianjur, 30 Juli 2013

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More