This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 18 Desember 2013

Berbaktilah Pada Orangtuaku

Untuk Bidadariku,
Bukan dari rahimmu aku terlahir, bukan pula dari keringatmu aku tumbuh. Bukan dari cinta dan kasihmu aku dibesarkan. Andaikan usiaku 63 tahun, maka aku menghabiskan 2/3 usiaku bersama engkau yang bahkan tidak kukenali saat aku terlahir dulu. Aku lebih memilih menghabiskan detik-detik perjuanganku meniti jalan surga bersamamu, menjadikan kau sebagai tanggunganku, menjadikan kau sebagai bagian dari amanah tanggung jawab dunia akhiratku. Keringat dan doa orangtuaku yang penuh pengorbanan untuk menjadikanku seseorang yang sukses, justru malah kau yang menikmati buahnya. Kuberikan nafkah untukmu agar kau tercukupi, agar terjamin kesehatan dan keamanan kau dan anak kita. Padahal, aku seperti ini karena dukungan kedua orang tua. Tapi aku memilihmu untuk menjadi tanggungan dunia-akhiratku, tanggung jawab atas akhlak dan lakumu. Untuk itu wahai bidadariku, berbaktilah pada kedua orangtuaku yang telah berjuang membesarkan dan mendidikku hingga aku seperti ini. Jangan pernah kau sakiti mereka dengan lisanmu, dengan tingkahmu, dengan raut mukamu, atau bahkan dengan diammu. Mereka yang berjasa atas diriku sebelum kujadikan kau bidadariku, dan setelah kau menjadi bidadariku mereka tidak meminta sedikitpun balasan dariku. Untu itu wahai bidadariku, berbaktilah pada orangtuaku. Cukupkan kebahagiaan mereka dengan memiliki menantu yang shalihah dan rupawan akhlaknya. Genapkan kebahagiaan mereka dengan dikelilingi cucu-cucu yang sehat, kuat, lucu, dan mencintai mereka di usia rentanya.
Untuk Pendekarku,
Bukan dari keringatmu aku dibesarkan. Bukan dari geraman tanganmu aku dididik. Bukan dari tatapan antusiasmu aku mengeyam pendidikan di dunia ini. Ah, andaikan usiaku 60 tahun, berarti aku menghabiskan 2/3 dari jatah usiaku bersamamu yang bahkan tidak pernah kulihat di foto album masa kecilku. Aku lebih memilih menemani setiap hembusan nafas perjuanganmu dlam meniti jalan menuju syurga-Nya. Aku lebih memilih diam di rumah demi menjaga anak-anak kita dibandingkan menengok kedua orangtuaku, jika kau memerintahkan seperti itu. Aku memilih untuk mentaatimu dibandingkan kedua orangtuaku sekalipun. Maka dari itu wahai pendekarku, izinkanlah aku untuk memintamu agar engkau berbakti terhadap orangtuaku. 1/3 hidup yang kuhabiskan bersama mereka, mereka gunakan masa itu untuk membentukku menjadi mawar yang siap kau petik. 1/3 hidupku kugunakan untuk berbakti penuh pada mereka meskipun mereka masih banyak merasa kecewa atas sikapku. Maka dari itu wahai pendekarku, jangan kau sakiti mereka dengan sikap, lisan, atau dengan kemarahanmu. Jangan pula kau sakiti mereka dengan cara kau menyakitiku. Cukupkan kebahagiaan mereka dengan memiliki menantu yang shaleh dan rupawan akhlaknya. Genapkan kebahagiaan mereka dengan dikelilingi cucu-cucu yang sehat, kuat, lucu, dan mencintai mereka di usia rentanya.
By.dwndilla

Minggu, 15 Desember 2013

Malam Hari adalah Waktu untuk Keluarga

Malam Hari adalah Waktu untuk Keluarga…
Bismillahirrohmaanirrohiim.
Malam ini dalam perjalanan pulang ke Jatinangor, lagi-lagi tertegun dengan pandangan yang menjerembab mata untuk terus menatapnya. Jalanan macet dari pertigaan Jatinangor-Cileunyi-Tol. Untuk teman-teman yangg pernah melintasi Jatinangor sepertinya tau dimana lokasi ini. Lokasi dimana di pagi hari jalan menuju Cileunyi menjadi satu arah (bukan arah ke pasar). Dalam kondisi macet dan hujan rintik seperti ini, arus jalan mulai dikendalikan oleh seseorang bertopi dan berponco. Samar-samar dari kejauhan Dilla menyaksikan bapak-bapak (sepertinya bapak-bapak, bukan usia muda) yang dengan cekatan menggerakkan tangan dan kakinya, menggunakan segenap kekuatan dan pikirannya untuk megatur dan mengatasi kemacetan yang disebabkan ketidakteraturan para pengguna kendaraan. Beberapa menit kemudian, jalanan semakin baik dan mulai terkendali. Beberapa meter sebelum angkot yang dilla tumpangi melewati posisi bapak ini, ada beberapa pengendara kendaraan yang beberapa detik mengurangi kecepatan kendaraan sambil menjulurkan tangan kanannya dari arah kaca sopir. Apa yang terpintas dalam benakmu? Ya. Beberapa pengendara hendak memberikan uang recehan sebagai tanda terima kasih karena bapak ini telah membantu mengatasi kemacetan, layaknya para pengatur jalan yang sering kita lihat saat menerima pembayaran jasanya. Tapi apa yang terjadi? Bapak ini menolak dengan cara yang sangat ramah. Dia meletakkan tangannya di depan dadanya dengan arah telapak tangan keluar, dan dia tersenyum. Bagaimana dilla tau dia tersenyum? Hehe..soalnya sopir angkot dilla juga mau ngasih, tapi ditolak juga. Untuk pertama kalinya dilla terpana melihat pemandangan sperti ini. Bapak-bapak ini bukan polisi. Seragamnya hanya kaos oblong, celana selutut, bertopi, dan berponco. Dan bapak-bapak ini bukan jasa tukang parkir atau jasa penyelamat jalan dadakan. Kalau boleh sedikit berhusnudzan, bapak-bapak ini membantu mengamankan jalan tanpa pamrih. Ironis melihat peristiwa seperti ini. Pada kenyataannya, Polisi Lalu Lintas yang sebenarnya. Para pengaman arus lalu lintas yang dengan sengaja digaji oleh masyarakat malah bersikap tidak menolak terhadap pemberian. Contoh yang sudah sangat umum kita ketahui adalah perilaku menerima “uang damai” terhadap pelanggaran kendaraan atau sering kita kenal dengan istilah tilang. Rasa-rasanya iklan kampanye Gita Wirjawan soal polisi yang menolak “uang damai” sangat sulit ditemukan. Kalaupun ada, entah ada berapa banyak di Indonesia ini.
Ada orang yang digaji, dibayar, siang bekerja meski panas - padahal anak-istrinya tengah menunggu di rumah.
Tapi ada juga orang yang tak digaji, tak dibayar, malam-malam dalam keadaan hujan rela membantu - padahal anak-istrinya sama-sama sedang menunggu di rumah.
Jatinangor, 14 desember 2014

Minggu, 08 Desember 2013

Bersahaja Namun Bahagia

Sahabat kenal nama Salman Alfarisi? Tentu saja. Apa yang sahabat ingat begitu mendengar nama shohabat ini? Boleh saya tebak? Hmm. Pasti perang Khandak atau parit bukan? Hmm. Atau kecerdasannya dalam berperang? Baiklah. Mungkin jawaban seputar itu yang menjadi ciri khas mana kala shohabat mendengar nama Salman Alfarisi. Atau ada yang teringat dengan nama mesjid salah satu kampus ternama di Negeri ini? Hehehe. Iya sih. Nama beliau diabadikan menjadi nama mesjid di salah satu kampus ternama yang terletak di Kota Bandung.
Dalam kesempatan ini, saya akan mengajak sahabat untuk mengenal Salman Alfarisi selangkah lebih dekat. Bukan sekedar kecerdasannya saja, tapi kisahnya sebagai seorang pejabat pada masa kekhalifahan Umar Ibn al-Khaththab.
Salman Alfarisi adalah seorang shohabat yang berasal dari Negeri Persia. Pada masa Khalifah Umar Ibn al-Khaththab beliau diangkat menjadi gubernur di daeah Kufah. Layaknya perlakuan terhadap seorang pejabat. Rakyat Kufah datang berbondong-bondong berdesakan memenuhi jalan demi menyaksikan kehadiran sang pemimpin. Dalam benak mereka ada bayangan bahwa layaknya seorang pemimpin, sang gubernur pasti datang diiringi arak-arakan yang ramai dan megah. Kenyataan berkata lain. Salman Alfarisi datang ke kota tersebut sendirian dan hanya menunggangi seekor keledai. Melihat ada orang asing datang, pendudukpun bertanya, “Apakah di jalan engkau melihat Salman Alfarisi? Beliau adalah seseorang yang diutus Khalifah Umar Ibn al-Khaththab.”
Salman Alfarisi menjawab singkat, “Akulah Salman Alfarisi”. “Jangan mengejek dan mencibir kami seperti Bani Israil manakala mereka berkata kepada Musa, ‘Apakah engkau mengejek kami?’ Musa menjawab, ‘Aku berlindung kepada Alloh sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.’” Ujar penduduk Kufah mengutip surah al-Baqarah ayat 67. Lantas Salman Alfarisi menjawab, “Aku berlindung kepada Alloh sekiranya aku menjadi satu dari orang-orang yang jahil. Ini bukan waktunya lagi untuk bercanda.” Kata Salman. Para penduduk tidak mempercayai keadaan Salman. Bagaimana tidak? Penduduk Irak yang dihup berdampingan dengan negeri Persia yang memiliki Istana medah dan menjulang tinggi lipenuhi emas, perak, sutra, dan permadani indah. Penduduk Kufah mengirah bahwa Islam adalah agama yang megah dan mewah. Namun sangkaan mereka salah. Salman berkata “Tidak, kami datang secara bersahaja. Kami hidup untuk jiwa, dan kami datang untuk mengangkat derajat iman dalam hati.”
Salman pun menjadi Gubernur Kufah dan ia mendapatkan gaji dari Umar ibnu Khattab. Ia membagi gajinya menjadi 3 bagian, sepertiga untuk dirinya, sepertiga untuk hadiah dan sepertiga sisanya untuk sedekah. Menjelang wafat, dalam keadaan masih menjadi gubernur, para penduduk melihat harta warisan yang akan ditinggalkannya. Ternyata harta yang dimilikinya hanyalah sorabn besar yang ia gunakan untuk alas duduk ketika ada tamu yang datang serta ia gunakan untuk duduk di pengadilan yang ia adakan. Selain itu, ia memiliki sebuah tongkat yang ia gunakan untuk bertopang, berkhutbah dan menjaga diri; serta sebuah wadah untuk makan, mandi dan berwudhu.
Saat sakaratul maut, Salman menangis. Penduduk Kufah pun bertanya, “Kenapa engkau menangis?”
“Aku menangis karena Rasulullah saw pernah bersabda kepada kami, Hendaklah bekal kalian di dunia seperti bekal orang yang bepergian. Sementara kita semua lebih suka menumpuk harta dunia.” Demikian Salman mengutip hadits yang diriwayatkan Ahmad.
Penduduk lantas menjawab, “Semoga Allah mengampunimu. Lantas sebanyak apa harta yang kau miliki Salman?”
“Apa kalian meremehkan ini? Aku takut pada hari kiamat akan ditanya tentang sorban, tongkat dan wadah ini”
Allohu Akbar! Betapa zuhudnya hidup Salman Alfarisi. Harta yang ia miliki di akhir hidupnya hanyalah sorban, tongkat, dan wadah yang bahkan ketiga benda inipun sangat beliau takutkan akan menyeretnya ke api neraka. Pertanggungjawaban di hadapan Alloh saat hari perhitungan nanti, itulah yang sangat beliau takutkan. Coba kita bandingkan dengan (ekhem) pemimpin di Republik Indonesia ini. Pemimpin di Republik ini tercatat di catatan sipil ataupun dinas kependudukan sebagai seseorang yang beraga Islam. Coba cek.  Kenyataannya memang sangat jauh bereda. Sangat jauh. Keislaman para shohabat dibuktikan dengan amalan, ibadah, dan ketaatan mereka terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta’ala., sedangkan keimanan kita hanya dibuktikan dengan data kependudukan dan kehadiran di atas sajadah. Apa yang membedakan kita atau pemimpin negeri ini dengan para shohabat atau pejabat muslim pada zaman Rasul? Jawabannya satu. Ketaatan terhadap perintah Alloh. Tingkat ke-ihsanan dengan level berbeda menjadikan kita memang sangat jauh jika dibandingkan dengan para shohabat. Al-Quran yang digunakan oleh para shohabat dan kita sekarang sama saja, tak ada yang berbeda. Hanya saja pemahaman dan cara pengaplikasiannya yang berbeda. dan sedikit perbedaan ini menyebabkan dampak yang sangat besar. Bukankah al-Quran diturunkan sebagai pedoman hidup dan penuntun jalan? Lantas mengapa kita hanya membacanya seperti koran? Al-Quran bukan sekedar bacaan, tapi ini kalam Alloh untuk menjadikan kita hidup bahagia dunia akhirat. Nah, jika kita tidak menjadikan al-Quran ini sebagai pedoman hidup, maka bersiaplah dengan penderitaan yang lengkap dunia-akhirat. Na’udzubillah.
Istilah korupsi dalam al-Quran belum saya temukan. Namun larangan untuk menyembunyikan atau menyelewengkan harta yang memang bukan hak kita memang telah Alloh tuliskan dalam al-Quran. Larangan melakukan telah dengan jelas Alloh nyatakan dalam beberapa ayat berikut ini :
  1. Tidak sesorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kenudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasantentang apa yang mereka kerjakan dengan (pembalasan setimpal), sedang mereka tidak dianiaya. (ali Imran 161)
  2. Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakansebagian daripada harta benda orang lain itu (dengan jalan) berbuat dosa, padahal kamu mengetahui. (albaqoroh 188)
  3. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (an Nisa 29)
Dari beberapa ayat di atas, Alloh menyatakan larangan bagi mukmin untuk menggelapkan hak orang lain (dalam bentuk apapun). Islam sangat mencintai kedamaian dan keteraturan. Berbuat baik sesama, dan saling menegakkan hak sesama muslim sudah menjadi bagian dari kewajiban kita. Islam tidak memperbolehkan praktek korupsi dengan cara apapun.
 Oleh : dwndilla

Selasa, 03 Desember 2013

Jika AKIBAT Hilang, Maka SEBAB Tak Pernah Hilang

Bismillahirrohmaanirrohiim.
Tulisan ini Dilla dedikasikan khususnya bagi teman-teman saya yang masih “galau” dalam berhijab. Sesekali dipakai, sesekali dilepas, atau yang berhijabnya masih setengah dan tanggung. Semoga sedikit memberikan getaran dalam jiwa, dan mari sama-sama berdoa pada Alloh agar Alloh menggetarkan hati kita untuk senantiasa istiqomah dalam agama-Nya. Aamiin.
Cukup terkejut, dalam beberapa kasus Dilla pernah bertemu dengan beberapa teman yang baru berhijab dan masih dalam masa transisi <read : goyah>. Bahkan banyak di dunia ini perempuan yang mengaku muslim tapi enggan berhijab. Kalau boleh jujur, Dilla sedih. Ingin rasanya sesekali menanyakan pada mereka mengapa mereka tidak berhijab. Sahabat, masih adakah alasan untuk kita tidak berhijab? :”(
Dalam suatu kesempatan. Dilla pernah bertanya <dalam keadaan santai> pada seorang teman yang tiba-tiba membuka kerudungnya. “Kerudung cantiknya kok dilepas?” teman Dilla menjawab “Rambut aku jadi rontok nih gara-gara ditutup terus kepalanya, rambut gak dapet oksigen cukup, dan keringetan” Sedih mendengar jawaban seperti ini. Lalu sejenak kami berdiskusi. Dalam hal ini tak ada niatan untuk menggurui, hanya sekedar menyampaikan apa yang Dilla tahu dan apa yang Dilla yakini.
Rambut rontok bisa jadi karena pemakaian shampo yang sudah tidak cocok, atau memang bisa jadi gara-gara kepala ditutup kain hijab terus. Dengan berhijab rambut menjadi indah, terlihat cantik, menjadi cara melindungi dari gangguan. Ini adalah hikmah yang muncul dari sebuah ketaatan. Adapun kalau hikmah ini tidak didapat, apakah aturannya yang salah? Jelas tidak. Dengan terganggunya kulit kepala gara-gara kerudung apakah bisa menjadi dalih kita tidak mentaati aturan? Tentu tidak. Hikmah adalah hadiah atau kejutan-kejutan yang Alloh berikan kepada hamba-Nya yang mentaati-Nya. Namun manakala hikmah itu tidak kita dapat bukan menjadi alasan untuk melalaikan syariat.
Misalnya, kita jelas sudah sangat tahu bahwa Alloh melarang kita untuk memakan daging babi. Haram hukumnya! Lah kenapa Alloh melarang kita? Pasti ada tujuannya. Lalu para saintis mencari fakta seputar babi. Fakta umum yang kita temukan adalah karena pada daging babi terdapat cacing pita yang dapat menyebabkan penyakit cacing. Parasit ini sulit disembuhkan, adapun jika disembuhkan akan memakan waktu dan biaya mahal. Lantas kita menyimpulkan “Oh, hikmah mengapa Alloh melarang kita makan daging babi karena pada babi menyebabkan penyakit!”. Namun, pengetahuan semakin luas dan mendalam. Mungkin saja pada masa beberapa dekade lagi ditemukan obat atau metode menghilangkan parasit cacing pada tubuh babi sehingga babi aman dikonsumsi karena telah terbebas dari cacing. Hikmah yang telah kita simpulkan tadi menjadi hilang. Lantas, seelah hikmah ini hilang apakah aturan larangan memakan babi menjadi tidak berlaku? Tentu saja tidak. Aturan tetaplah aturan dna harus ditaati.
Sekali lagi. Hikmah adalah kejutan atau hadiah yang Alloh berikan pada hamba-Nya atas ketaatannya. Adapun saat hikmah itu hilang, bukan berarti aturan turut serta hilang. Sahabat, larangan memakan babi adalah suatu ketetapan Alloh yang harus kita taati. Apakah sudah kita taati? Begitupun dengan keharusan mengenakan hijab, ini adalah ketetapan dari Alloh yang juga harus kita taati. Dua-duanya sama-sama aturan Alloh. Jadi, masih adakah alasan untuk mentaati sebagian aturan dan mengabaikan aturan yang lainnya? Mentaati aturan Alloh memberikan nilai pahala bagi kita, dan meninggalkan aturan Alloh memberikan nilai dosa bagi kita. Jadi, pilih mana? Menabung nilai pahala ataukah dosa?
Yuk. Kita sama-sama belajar untuk mentaati semua aturan yang telah Alloh berikan. Biarkanlah hikmah menjadi bagian dari kejutan Alloh untuk kita. Kewajiban kita adalah mentaati apa yang Alloh perintahkan untuk kita, sebagai wujud penghambaan terhadap-Nya.
Oleh : dwndilla

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More