This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 18 April 2014

Imas, Satu Nama yang Terkenang




Bismillahirrohmaanirrohiim..

Imas, satu nama warga Pasirkiamis yang mungkin akan terus teringat di memori ini. Nama yang sederhana, pribadi yang sederhana, namun akhlaknya sangat luar biasa…Remaja cantik, ceria, dan inspiratif ini Dilla kenal saat kegiatan KKNM di Pasirkiamis-Garut awal Januari 2014.
Pertemuan terakhir di akhir masa KKNM, kami berbincang di pagi hari selepas sholat subuh. Tak disangka, Imas memberikan hadiah bros flanel yang ia buat sendiri :”) . Sayangnya, tak ada karya buatan tanganku sendiri yang kubawa dan kujadikan cendera mata untuknya. Hanya sebuah buku berjudul “Wanita-Wanita yang Dijamin Masuk Syurga” yang bisa kuberikan sebagai tanda kenangan untuknya. Imas adalah gadis menakjubkan yang menjadi semangat baru bagiku di tengah kemalasan menjalankan program KKNM saat itu. Ia menginspirasiku agar senantiasa berbagi, bangun di pagi hari demi melihat semangat anak-anak yang bersemangat menimba ilmu Islam. Saling mengisi, dan berdiskusi demi mendapat pemahaman agama yang lebih baik.
Setelah KKNM, Imas sering menanyakan kabarku lewat sms. Imas pernah bercerita bahwa Imas ingin keluar dari zonanya saat ini, Imas ingin melakukan perubahan atas keluarga dan lingkungannya. Sempat kuberi saran, sayangnya belum tuntas kutunaikan janjiku untuk membantunya. Maaf.
15 April 2014, selepas ujian, masuk sebuah pesan singkat. Dari Imas! Kaget saat membacanya. Allohu Akbar! Imas mengundangku ke acara pernikahannya yang akan dilaksanakan hari ini, 18 April 2014. Tadi malam dilla mengirim pesan pada Imas, dilla tidak bisa menyaksikan hari kebahagiaannya. Imas bercerita siapa suaminya, mengapa ia memutuskan menikah. Masya Alloh, lagi-lagi Imas membuatku cemburu atas sikap kepatuhannya pada orang tua. Apapun yang Imas rasakan, Insya Alloh takdir ini adalah takdir yang Alloh tentukan untuk kalian.
Imas, insya Alloh kita bertemu lagi. Akan segera dilla agendakan pertemuan kita. Janji! Selamat menempuh hidup baru sebagai makmum bagi suamimu. semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah. Semoga generasi muslim kuat lahir dari keluargamu. Aamiin :)
Cianjur, Juma 18 April 2014
-dwn

CeritaJika #46 : Jika Istrimu Seorang Mahasiswi Farmasi

Seringkali kau membayangkan bahwa istrimu adalah seseorang yang telah memiliki titel-gelar-atau profesi. Tapi pernahkah kau membayangkan bagaimana jika istrimu masih menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi? Pernahkah kau membayangkan bagaimana jika istrimu yang masih muda ini adalah mahasiswi jurusan Farmasi?
Jika istrimu seorang mahasiswi Farmasi, mungkin ia akan menjadi istri yang tiap harinya bergadang demi menyelesaikan tugas kuliah dan membuat laporan berbagai praktikum dengan deadline yang sangat ketat. Jangan heran jika kau mendapatinya dengan mata sayu, berkantung, dan terlihat lelah. Tapi percayalah, manakala kau terbangun dan mengajaknya mendirikan sholat malam di tengah ketidaksadarannya, mata sendunya akan berubah dan bercahaya, raut wajah lelahnya akan berubah menjadi rona berseri karena bahagia manakala engkau mengajaknya agar sadar waktu dan bermesraan dengan Sang Pencipta.
Mungkin istrimu akan sering pulang malam manakala ada beberapa praktikum yang menyita waktu. Saat kau meneleponnya, mungkin dia sedang di laboratorium demi bergulat dengan senyawa atau menaklukan formulasi obat. Jangan heran jika saat dia pulang kau tidak mendapatinya dalam keadaan harum, melainkan dengan bau senyawa-senyawa kimia laboratorium. Bisa jadi bau itu biasa saja, atau bahkan baunya menyengat yang menyebabkan engkau enggan mendekatinya. Jangan heran jika dia sangat teliti memperlakukan tikus. Bukan karena dia mencintai binatang yang bisa jadi kau jijik terhadapnya, semata-mata dia lakukan demi penelitian yang pada akhirnya ingin dia baktikan pada masyarakat. Jangan marah jika saat ia pulang kau dapati baju yang baru saja kau belikan dengan tabunganmu malah kotor dengan warna-warna tak jelas. Bisa jadi baju itu terkena perak nitrat, carmine, atau terkena ekstak saat dia di laboratorium bahan alam. Percayalah, dia sangat ingin berhati-hati dan sangat menyukai pemberianmu, tapi terkadang keteledorannya yang membuat ini semua. Jangan merasa jijik manakala wajahnya tiba-tiba berjerawat atau kulitnya memerah, ia tidak terkena kutukan, bisa jadi ia terkena paparan senyawa berbahaya ataupun terinfeksi bakteri saat ia di laboratorium mikrobiologi.
Jika istrimu mahasiswa farmasi, di tengah kesibukan kuliah, praktikum, laporan, dan mungkin tugas akhirnya – percayalah bahwa ia selalu mengingatmu. Dia tahu kewajibannya sebagai istri, memperlakukan tikus dengan baik jelas tidak lebih dia utamakan dibanding memperlakukan suami dengan baik. Meskipun ia sibuk dengan kesibukan yang mungkin belum kau mengerti, percayalah bahwa ia selalu memperdulikan dan mencintaimu. Jangan heran jika dia rewel memintamu menghabiskan antibiotik saat kau terinfeksi bakteri. Jangan heran jika ia akan mengatur pola makanmu berdasarkan golongan darah ataupun berdasarkan jenis risiko penyakit yang sedang atau mungkin akan kau derita. Perlu kau tahu, meskipun ia pandai meracik obat dengan takaran yang pas, tapi belum tentu ia dapat memasak dengan bumbu yang pas. Namun, ia akan terus belajar memasak demi melihat senyummu, dan melihat kau sehat bugar. Sesekali mungkin kau akan merasa kesal karena di malam hari, setelah menghabiskan makan malam ia akan melarangmu tidur langsung. Ia akan memintamu untuk bersama dengannya barang beberapa jam. Selain karena ingin mendengar kisahmu hari ini, ia ingin memastikan agar kau terhindar dari risiko diabetes. Pun jangan kesal manakala ia sesekali jahil menyembunyikan remote saat kalian menonton. Dia hanya ingin kau sedikit bergerak ke layar televisi untuk memindahkan saluran, sekali lagi percayalah bahwa ia melakukan ini demi kesehatanmu.
Jika istrimu mahasiswi farmasi, percayalah bahwa namamu akan tercantum di setiap kata pengantar tugasnya termasuk tugas akhirnya. Ia akan selalu memastikan kesehatanmu, menyediakan makanan sehat, dan menjadi dokter-perawat-apoteker-ahli gizi pertama bagimu. Jika istrimu mahasiswi farmasi, jangan heran jika saat ia membuka tabungannya dan ingin membelikan sesuatu untuk orangtuamu yang menjadi mertuanya. Ia akan membelikan buah-buahan atau nutrasetikal demi menjaga kesehatan orang-orang yang kau cintai. Jika istrimu mahasiswi farmasi, di tengah kesibukan praktikumnya yang menyita waktu, percayalah bahwa waktu yang paling ia cintai adalah beberapa jam yang ia habiskan bersamamu dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai istri. Meskipun istrimu kadang terlihat aneh karena sering berinteraksi dengan instrumentasi analisis ataupun dengan tikus. Percayalah bahwa saat ia lelah di laboratorium ia ingin kau juga ada di sana untuk memberi dukungan dan kekuatan baginya. Jangan heran jika sesekali ia akan memberikanmu kejutan dengan kalung obat-obat, buku catatan yang terlihat seperti buku resep, atau mungkin dia akan menjadikan namamu sebagai nama obat baru yang ia formulasikan.

pengirim :
Dilla Wulan Ningrum
Mahasiswi Farmasi Universitas Padjadjaran



dipublikasikan melalui tumblr Kurniawan Gunadi

Kamis, 17 April 2014

Ada Saatnya Hujan itu Berhenti

Bismillahirrohmaanirrohiim

Alhamdulillah, kali keempat bisa bertemu dan menyapa -bapak- itu di pagi hari. Sampai saat ini, belum juga kuketahui namanya. Entahlah, tak cukup memahami mengapa lidah ini begitu kaku saat hendak bertanya pada -bapak- itu. -bapak- itu, ya beliau ada bapak tuna wisma yang sering beristirahat di pinggiran jalan dekat kosan mbak Firdha. Bapak-bapak yang awalnya ku takuti karena dulu ku sangka dia orang yang hilang akal, namun ternyata ke-suudzan ini terjawab mana kala pada suatu pagi selepas mencari pengganjal perut, kuberanikan diri menyapa -bapak- itu sambil membawa sekotak bubur berikut minuman dan susunya. “Assalamu’alaykum, Pak. Bapak sudah sarapan?” Tanyaku dengan sedikit ragu. Diluar dugaan, tenyata -bapak- itu menjawab pertanyaanku. Sambil tersenyum, beliau berkata “Belum, Nak.” Sedikit tercengang dan kikuk melanjutkan pembicaraan, “Hmm..Bapak, ini saya ada sedikit makanan untuk bapak sarapan. Bapak bersedia menerimanya?” Lalu bapak itu tersenyum sembari mengangguk mengiyakan. Astagfirulloh. Selama ini suudzan, maafkan hamba yaa Alloh :(
Kali kedua, jeda sekitar seminggu dari pertemuan pertama, dengan sekotak makanan, pagi ini diceriakan melihat senyum -bapak-. Kali ketiga sedikit berbeda, dengan dua bungkus nasi kuning, kami menghabiskan sarapan bersama. Di pinggir jalan, disapa asap damri, angkot, dan beberapa mobil pengangkut dengan ukuran besar yang gasnya merusak kesegaran udara di pagi hari. Meski dengan waktu kebersamaan yang relatif lebih lama, namun tetap saja tidak banyak obrolan yang berani kuutarakan. Tak banyak kata-kata yang terlontarkan untuk mencairkan suasana. Banyak pertanyaan di otak, hanya saja semua tertahan di kerongkongan. Dan pagi ini, setelah menikmati sarapan pagi, kutemui lagi -bapak- itu, masih dalam kondisi yang tidak jauh berbeda, tempat dingin, kotor, dan sedikit kurang nyaman untuk pernapasan. Tempat -bapak- beristirahat di Jatinangor ini hanya beratapkan langit, dan berlantaikan tanah. Untuk tidurpun kadang -bapak- memanfaatkan trash bag bekas barang-barang atau bekas sampah yang sengaja dia cuci. Pernah sekali kutawarkan sleeping bag namun -bapak- menolak dengan alasan “terlalu bagus, Nak” Yaa Alloh :”(
Aku tak tahu berapa usia -bapak- ini. Hanya saja saat melihatnya, aku sering teringat Papah di rumah. Sempat terpikir “Bagaimana jika ternyata aku ditakdirkan sebagai anak -bapak- itu?” Pernahkah kau membayangkan menjadi bagian terpenting dari kisah mereka? Dengan kehidupan kita yang sekarang, pernahkah membayangkan jika kau adalah orang lain dengan takdir yang sangat berbeda? Rasa bersyukur selalu muncul lebih manakala menyaksikan pemandangan seperti ini. Alhamdulillah Papah yang meskipun sudah renta tapi masih memiliki tempat bernaung. Papah yang masih sakit tapi masih bisa dirawat Mamah dan anak-anaknya.
Setiap orang dilahirkan bersama takdir yang telah tertulis. Takdir itu bisa kita ubah tergantung usaha dari kita. Saat bersama dengan -bapak- ini sempat terpintas pertanyaan “Mengapa aku belum bisa menjadi solusi atas masalah yang timbul di masyarakat?” Ingin rasanya bergerak dan membantu, tapi bingung harus mulai dari mana dan harus bersama siapa agar bersama-sama membantu memecahkan masalah seperti ini. Tapi aku yakin, masalah ini pasti ada penyelesaiannya. -bapak- itu pasti akan segera mendapatkan solusi. Bisa jadi melalui tangan orang lain, atapun dari tanganku langsung. Percayalah, akan ada saatnya dimana hujan reda dan berhenti. Percayalah, akan ada saatnya dimana masalah terselesaikan…

Jatinangor, Kamis 17 April 2014
-dwn-

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More