Sabtu, 31 Mei 2014

Yang Seharusnya Dipersiapkan

Bismillahirrohmaanirrohiim
Terinspirasi dari sebuah tweet teman “Aku mah milih presiden untuk masa 5 tahun aja bingung, apalagi milih jodoh buat seumur hidup -_-“. Hehe. Tweet ini bersumber dari teman bernama Eka Agustira. Sepakat, untuk memilih pemimpin 5 tahun aja bingung, gimana kalau milih pasangan untuk seumur hidup? Setelah membaca tweet ini, terpanggil kembali ingatan Dilla. Sebuah obrolan panjang lebar bersama mamah di bulan Syawal 1434 H lalu.
Awalnya dilla bertanya pada mamah, bagaimana dulu mamah bisa beradaptasi dengan papah setelah ijab qobul dinyatakan. Karena yang dilla tahu, mamah dan papah tidak kenal cukup banyak, tak ada interaksi pacaran antara mereka sebelumnya. Dulu mamah adalah kembang desa. Banyak pemuda yang ingin menikah dengan mamah. Mulai dari anak pak lurah, dokter yang sedang mengabdi di desa, hingga tentara juga berupaya mendekati mamah. Hanya saja mamah tidak tertarik untuk berhubungan lebih. Satu tantangan dari mamah, jika ingin berkenalan datang saja ke rumah. Dan yang seperti apa yang terjadi pada papah, obrolan dan pendekatan hanya akan terjadi antara lelaki dan kakekku, bukan mamah dan lelaki itu yang berdua-duaan. Dan diantara sekian banyak lelaki yang mendekati, papah adalah satu dari sekian lelaki yang memberanikan diri datang ke rumah. Kakek yang terkenal galak dan tegas membuat ciut mental lelaki yang datang. Dan dari sekian yang sempat datang, hanya papah yang mentalnya kuat. Ini yang menjadikan mamah begitu yakin pada papah. Sebelum pernikahan terjadi, nenek sempat bertanya apakah mamah serius akan menerima lamaran papah. Pasalnya lingkungan pergaulan keduanya sangatlah berbeda. Mamah yang dari kampung, sedangkan papah dari kota. Papah yang sudah memiliki pekerjaan tetap, sedangkan mamah akan menjadi ibu rumah tangga dengan penyakit yang dibawanya. Dan yang terakhir, hal ini bisa menjadi saja membuat seorang perempuan ragu, usia papah dan mamah terpaut 14 tahun. Cukup jauh. Dengan tegas mamah menyatakan kesiapannya menjadi istri papah. Nenek bersyukur dan terharu saat itu. Singkat cerita papah dan mamah menikah. Satu sama lain belum begitu kenal sifat baik-buruk masing-masing.
Dilla bertanya “Mamah gak kaget lihat sikap papah?” Mamah jawab, “Kaget, mamah baru tahu kalau papah juga sangat tegas, dan sulit terbuka jika ada masalah, enggan mengeluh pada istri, padahal mamah inginnya papah bisa berbagi masalah dengan Mamah.” Kemudian Dilla bertanya, “lalu, papa yang terpikirkan oleh mamah setelah mengetahui sifat papah seperti itu?” Sambil tersenyum mamah menjawab, “Yang terpikirkan saat itu hanyalah terus bersama dengan papah selamanya. Meskipun awalnya kecewa dengan sikap-sikap itu tapi mamah yakin Papah bisa berubah. Saat itu terpikir bahwa papah enggan cerita karena takut mamah jadi kepikiran terus. Terus mamah berpikir bahwa setelah akad dinyatakan, bukan saatnya memilih, tapi saatnya menjalani atas pilihan yang telah diputuskan. Tak ada rasa sesal karena menikah dengan papah.” Sejenak Dilla terdiam, jika mendengarnya rasanya sulit percaya ternyata mamah bisa se-kuat itu di awal pernikahannya. Mamah harus menerima segala kekurangan pria yang menikahinya, yang belum cukup ia kenal.
Tanpa diminta, mamah lanjut berbicara “Dalam urusan nikah, bukan persiapan materi semisal biaya resepsi, rumah, makan yang menjadi utama. Yang paling utama adalah persiapan mental perempuan menjadi istri dan menjadi ibu, serta mental laki-laki yang menjadi imam dan siap menanggung dunia-akhirat istri dan anaknya. Dan perlu Dilla tau, untuk mempersiapkan mental seperti itu tidak mudah. Kasusnya banyak ornag yang ingin menikah, tapi ternyata mereka belum siap. Akibatnya? Perceraian menjadi sangat mudah terjadi. Peluang surga bagi istri terletak dari bagaimana ketaatan dan kesetiaannya pada suami. Jadi, persiapkanlah menjadi perempuan yang siap taat dengan segala perintah dan keinginan suami. Jika belum siap menjadi istri, jangan paksakan untuk menikah. Makanya cek lagi, apakah Dilla ingin menikah, ataukan memang sudah siap menikah?” Lalu dilla terdiam, mencoba bertanya pda diri sendiri. Sudah siapkah aku jika ada seorang lelaki yang ingin menjadikanku makmumnya? Sudah siapkah aku jika harus taat pada orang yang belum cukup ku kenal? Sudah siapkah aku mengutamakan suami dibandingkan papah? Lagi-lagi mental ini yang ternasehati. Masih ada yang harus dipersiapkan semaksimal mungkin. Inilah yang semestinya dipersiapkan sebelum memilih laki-laki yang akan menjadi imam sampai akhir hayat. Inilah yang semestinya dipersiapkan sebelum memilih laki-laki yang menjadi sahabat kita di syurga nantinya. Terima kasih Mamah atas kisahnya.


Percakapan pada awal Syawal 1434 H, ditulis pada 31 Mei 2014 (1 Sya’ban 1435 H)
Jatinangor
dillawulanningrum

2 komentar:

nice Dilla :) , terimakasih..

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More