Kamis, 15 Mei 2014

Kekhawatiran Perempuan #1

Bismillahirrohmaanirrohiim

Andaikan aku dirimu, seorang makhluk kuat dan pemberani, yang dikekang dengan aturan berbusana muslimah. Ups! bukan, aturan berhijab bukan bentuk pengekangan, melainkan sebuah pembebasan diri. Karena bagi saya, insan yang merdeka adalah insan yang bebas melaksanakan pengabdian pada Alloh meskipun banyak rintangan.
Sebagai perempuan, saya takut, saya khawatir. Akhir-akhir ini banyak kasus pelecehan seksual yang dialami oleh gadis, ibu-ibu, bahkan anak kecil. Astagfirulloh. Sebagai perempuan yang sedang mengenyam pendidikan di kota orang, dan yang hidup mandiri di kosan, rasa takut dan khawatir adanya gangguan-gangguan itu sangatlah besar. Pun sebagai seorang ibu, tentu lebih khawatir, takut anak gadisnya kenapa-kenapa. Lebih dari itu, sebagai ibu, iapun khawatir anak lelakinya terjebak pada perbuatan amoral yang dapat mencelakai gadis lain.
Akhir-akhir ini Saya sering pulang malam, meskipun menggunakan travel, namun saat melangkahkan kaki di kota Bandung, saya sering merasa takut. Biasanya saya tidak setakut ini, namun terpengaruh media dengan berita-beritanya, rasa paranoid itu kian muncul. Meskipun berbusana muslimah, tidak ketat, tidak transparan, namun tetap saja ketakutan selalu muncul. Yang saya takutkan adalah, jika bertemu dengan laki-laki yang sedang ditunggangi syaitan. Siapa bisa jamin perempuan dengan pakaian tertutup tidak akan menjadi korban. Selama perjalanan di Bandung-Jatinangor, dalam hati senantiasa memanjatkan doa agar dihindarkan dari kejahatan siang dan malam.
Dalam seminggu ini, saat berbincang dengan Mamah melalui koneksi telepon genggam, yang mamah tanyakan bukan lagi “sehatkah? sudah makan kah?” melainkan “dimana sekarang? aman kan? pergi kemana? bersama siapa”. Aku tahu apa yang mamah khawatirkan mengenai aku, anak bungsunya.
Entah mengapa, saya tidak mengerti mengapa di zaman yang katanya modern ini, perempuan masih saja dijadikan korban tindakan asusila laki-laki yang mengumbar syahwatnya. Rasa-rasanya seperti di zaman Jahiliyah, hanya saja kita “cerdas dalam teknologi” namun “bodoh dari segi aqidah”.
Saya tidak ingin memukul rata bahwa yang di otak laki-laki hanya urusan biologis saja, kenyataannya tidak semua laki-laki seperti itu. Masih ada pria baik yang menghargai perempuan. Tak perlu mencaci mereka, tak perlu menghujat mereka. Mari kita doakan semoga kaum lajang segera “siap menikah” agar mereka tidak terjebak dalam pacaran dan pergaulan bebas. Kita doakan juga yang sudah menikah semoga langgeng dan sakinah agar tidak terjebak dalam perselingkuhan.
Untukmu wahai perempuan, jika sering bepergian, jangan lupa kabari keluarga ataupun teman terdekat (perempuan). Atau, segeralah cari laki-laki yang siap melindungimu setelah ayahmu.

Jatinnagor, 15 Mei 2015
dilla wulan ningrum

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More