This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 29 Oktober 2013

sedikit berbicara mengenai sunnah

Bismillahirrohmaanirrohiim
“Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam. Dan kalian akan melihat perselisihan yang sangat setelah aku (tiada nanti), maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin mahdiyyin (pemimpin yang lurus dan mendapat petunjuk), gigitlah ia dengan gigi geraham (berpegang teguhlah padanya), dan jauhilah perkara-perkara muhdatsat (hal-hal baru dalam agama), sesungguhnya setiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Ibnu Majah. Hadis senada diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad)
Hadist di atas sudah sangat bersahabat di telinga kita. Bahkan ketika saya masih kecil, saya seringkali mendengar kutipan hadist ini dari mulut ibu saya. Kok kecil-kecil sering dicekokin hadist? Hehe. Saya tidak sehebat itu kok. Dulu saya sering diajak ke kondangan yang nikahan. Lantas benak saya bertanya pada ibu saya, “Mah, nikah itu apa? Kenapa kita harus menikah?” Bijaknya ibu saya, beliau tidak mejawab dengan dalil ilmu biologi misalnya “biar punya keturunan” atau semacamnya, ibu saya menjawab “karena ini sunnah Rasul”. Ya. Ini yang mudah untuk diterima anak kecil ingusan cap 11 pada masa itu. Sunnah Rosul artinya ialah apa yang Rasululloh contohkan.
Saat ini saya menyadari ada yang tidak berkembang di sini. Masyarakat pada umumnya hanya memahami sekadarnya saja. Bisa jadi hadist yang mereka tau bukan berasal dari apa yang mereka cari atau mereka dapat, melainkan dari apa yang mereka dengar. Sayang sekali. Ustadz-ustadz di kampung saya ataupun orang yang mengaku ustadz di layar televisi sana hanya menjelaskan islam secara normatif, eh atau mungkin hanya sekedar ritual ibadah saja. “Ibu-ibu, jangan sering ngegosip yah.” Misal kata ustadz di salah satu acara TV, lalu setelah acara itu adalaha gosip di pagi hari. Astagfirulloh. Miris. Program-program di televisi saja sudah menjadi program munafik. Bagaimana tidak? Program tausyiah memuat materi agar kita tidak menceritakan aib orang lain. 30 menit kemudia acara lain di stasiun yang sama malah menceritakan aib selebritis. Indonesia, mengapa kau ini sangat aneh?
Ajaran Islam yang dinasehatkan itu tiba-tiba terhapuskan oleh ketidaktaatan pada nasehat itu. Atau contoh lainnya anjuran bersedekah, berkurban, saling menolong, ibadah sholat yang harus getol, shalat sunnah yang ditingkatkan, dzikir yang diseriuskan, shaum sunat yang digencarkan. Titik. Hanya sampai sini saja yang sering diwejangkan-syi’arkan oleh para ustadz pada umumnya. Ah, andaikan kita bisa masuk syurga hanya dengan sholat 5 waktu, tahajud, shaum, shodakoh rasanya sangat tidak adil. Betapa jauh perjuangan kita dengan perjuangan yang dilakukan oleh para shohabat untuk mengagapi syurga. Jauuuuuuuuh. Jauuuuuuuh. Dan pengorbanan kita terlalu kecil. Perjuangan besar para shohabat saja yang bernilai besar bisa jadi tidak diterima Alloh jika perjuangan tersebut tidak didasari keimanan, ketaatan, dan keikhlasan. Apalagi pengorbanan kita yang kecil? -_-

Kembali pada hadist di atas. Dinyatakan bahwa orang-orang yang tidak mengikuti sunnah Rosul adalah bukan bagian dari umat Rasul. Terkait ke-shohih-an hadist ini saya sendiri kurang begitu paham. Yang saya tau adalah bahwa kita diwajibkan mentaati Alloh, Rosul, dan Ulil Amri sebagaimana termaktub dalam an-Nisa ayat 59:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Sekali lagi, sunnah Rosul bukan sekedar ibadah ritual yang Rosululloh lakukan. Sunnah Rasul adalah apa-apa yang dilakukan Rasululloh termasuk ibadah, sikap, pola pikir, strategi, tata cara dan pola gerak yang dilakukannya.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” [QS.al-Baqoroh ayat 208]
Dalam ayat ini juga dinyatakan bahwa kita harus masuk Islam secara kaffah. Contoh menjalankan Islam yang benar adalah ada pada diri Rosululloh. Maka dari itu, kita harus menjadikan Rasul sebagai tauladan kita agar kita menjalankan Islam yang sebenar-benarnya dengan sebenar-benarnya.
Kebenaran menjalankan Islam berkaitan dengan manhaj yang Rasululloh contohkan. Bagaimana dengan kita? Islam seperti apakah yang sedang kita jalani? Jalan manakah yang sedang ditempuh? Hati-hati, bisa jadi anda berada di jalan bernama Islam tapi ternyata jalannya tidak sama dengan jalan Rasululloh. Kita harus mengikuti semua sunnah Rasul, karena Rasululloh pernah bersabda bahwa hanya 2 pusaka yang menjadi petunjuk bagi kita. Kita tidak akan pernah tersesat jika kita memegang keduanya. Dua pusaka itu adalah Al-Quran dan as-Sunah. Dan jelas kita juga dilarang menentang Rasululloh sebagaimana dicantumkan dalam an-Nisa ayat 115.
"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali."

Yuk, kita pahami Islam yang sebanar-benarnya. Mari ikuti sunnahnya agar kita menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad. Semoga Alloh ridha sehingga Rasululloh memberikan syafaat bagi umatnya, hamba yang menjalankan sunnahnya. Semoga kita berada dalam manhaj Islam yang benar agar perjuangan kita tidak sia-sia.

Senin, 21 Oktober 2013

Qurban dan Esensi yang Terlupakan

"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah Millah Ibrohim,  seorang yang hanif…" (Qs. An-Nahl 123)
Hakikat Qurban yang sangat umum dikenal di masyarakat ialah “menyembelih hewan”. Secara prakteknya memang terlihat jelas bahwa Qurban diidentikkan dengan peenyembelihan hewan Quran. Kenyataannya memang itulah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as.. Kisah menyejarah penyembelihan Ismail as. oleh Nabi Ibrahim as. menjadi landasan pemikiran bahwa pada momen 10 Dzulhijjah maka kita harus berqurban dengan cara menyembelih hewan ternak baik itu sapi, kambing, maupun unta.
Bukankah kita ini umat Nabi Muhammad saw.? Mengapa kita harus mengikuti ajaran Nabi Ibrahim as.? An-Nahl ayat 123 menjawab pertanyaan ini bahwa Nabi Muhammad diperintahkan untuk mengikuti Millah Ibrahim, belia adalah kekasih Alloh yang hanif (lurus, benar). Apa itu Millah Ibrahim?  Dari salah satu sumber, saya mendapatkan definisi ini bahwa sekaitan dengan Millah Ibrahim, as. Al-Raghib (2004:526) menjelaskan “Millah ialah  nama bagi  yang Allah syariatkan kepada hambanya melalui lidah para Nabi agar mereka sampai dengannya kehadirat Allah SWT”. Dapat diambil satu simpulan sederhana bahwa Millah Ibrahim adalah cara, jalan, atau aturan Nabi Ibrahim. Jadi jelas bahwa Millah Ibrahim bukanlah Agama Ibrahim sebagaimana yang umum dipahami kebanyakan orang, karena pada hakikatnya Nabi Ibrahim tidak membuat agama tersendiri, tapi berpegang pada Agama Islam.
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” [QS. Ali-Imran ayat 67].

            Dalam keterkaitannya dengan qurban, haruslah kita pahami bahwa qurban bukan sekedar pengorbanan menyembelih hewan. Esensi yang sangat sering dilupakan bahwa qurban adalah wujud keloyalan dan ketaatan Ibrahim dan Ismail terhadap Alloh. Dalam bahasa Arab ini biasa dikenal dengan istilah al-Wala dan al-Baro. Al-Wala atau loyalitas yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dapat kita lihat dari beberapa peristiwa khususnya dalam momen Dzulhidjah ini. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan Siji Hajar dan Ismail yang masih bayi. Mereka ditempatkan di padang pasir kering tanpa sumber air. Secara nalar, pastilah Ismail kehausan, ditambah lagi kondisi Siti Hajar yang mengalami kekeringan ASI sehingga tidak dapat menyusui putranya. Di sini kesetiaan dan ketaatan terhadap perintah Alloh diuji kepada Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail. Atas dasar keimanan yang kuat, ketiga hamba Alloh ini dapat menyelesaikan ujian yang meningkatkan derajat ketakwaan mereka. Dan atas Kecintaan Alloh terhadap hamba yang cinta pada-Nya pula, Ismail tidak mati kehausan karena dari pasir di bawah telapak kakinya muncul air yang sangat banyak yang sekarang kita sebut air zam-zam. Maha Suci Alloh, berdasarkan penelitian, air zam-zam ini menjadi satu-satunya sumber air yang tidak akan pernah kering. Wallohu’alam. Kisah perjalanan Siti Hajar yang berlari dari bukit Shafa ke Marwah guna mencari sumber air dijadikan salah satu rukun dalam Ibadah Haji dimana Ibadah Haji ini merupakan salah satu rukun Islam. Allohu Akbar!
Kisah kesetiaan kedua yang diperlihatkan keluarga Ibrahim as. adalah kisah penyembelihan Ismail as. bisa dibayangkan, bagaimana perasaan seorang ayah yang sudah tua baru punya anak laki-laki satu, anaknya sholeh dan sangat lovable, mau menjadi seorang nabi, tapi turun perintah Alloh: “Sembelihlah anakmu..!” Jika dijawab dengan akal, beliau bisa stress kedua kalinya. Tapi Nabi Ibrohim bersikap pasrah terhadap perintah Alloh, sami’na wa atho’na. Kemudian beliau berkata pada anaknya, “Wahai anakku, aku mendapat perintah ini, diperintah untuk menyembelih kamu.” Apa jawaban Ismail? “Amalkan wahai ayahku, aku akan bersabar.” Inilah wala’ yang harus ditiru umat Islam yang ada hubungannya dengan Idul Adha dan Ibadah Qurban. Jadi jika sudah mendengar perintah Alloh (hukum Alloh), maka sikapnya harus sami’na wa atho’na. Jangan ada pertimbangan macam-macam, karena hukum Alloh pastlah Hukum yg terbaik. Kalau mampu harus diamalkan, tapi kalau tidak mampu, amalkan semampunya.
Al-Baro atau antiloyalitas yang ditunjukkan sikap Ibrahim as. termaktub dalam al-Mumtahanah ayat 4 “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja…
Al-Baro ini bukan berarti sikap tidak loyal atau tidak taat terhadap aturan Alloh, melainkan ketidaktaatan terhadap aturan yang bukan berasal dari Alloh. Dalam prakteknya kita tidak diperbolehkan mentaati aturan yang landasannya bukan berasal dari al-Quran dan assunah. Karena telah jelas Alloh perintahkan dalam An-Nisa ayat 59 : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Jelas dalam ayat ini yang diseru adalah orang-orang beriman yang diwajibkan untuk mentaati Alloh, Rasul, dan Ulil Amri berasal dari kaum mereka yaitu yang berasal dari orang mukmin juga. Jika pemimpin kita bukanlah orang beriman maka haram bagi kita untuk mentaatinya. Bagaimana jika aturan yang dipegang oleh pemimpin bukanlah aturan yang berlandaskan al-Quran dan assunah? Maka wajib bagi kita untuk berlepas diri dari sistem tersebut.
Esensi dari qurban yang seharusnya kita pahami adalah bukan sekedar budaya menyembelih hewan ternak, melainkan bukti pengorbanan harta dan jiwa kita dalam mentaati semua perintah Alloh, menjalankan dengan penuh kesetiaan, ketaatan, dan ketakwaan. Kesetiaan terhadap perjuangan menegakkan agama Islam, ketaatan dalam menjalankan syariat Islam, dan ketakwaan dalam menjalankan semua perintah Alloh.


oleh: dwn

Tersebut : INI (bukan) HARTAKU

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [QS. al-Baqarah ayat 195]
kalam Alloh ini turun ke bumi sudah lebih dari 1400 tahun. sejak dahulu tidak ada perubahan sama sekali. perintah dan larangan Alloh tidaklah berubah sedari dulu. dulu itu sejak kapan? sejak alam semesta ini diciptakan.
dalam suatu kegiatan saya harus menghafal ayat ini. jujur, dalam waktu relatif singkat, saya tidak mampu menghafal dengan baik ayat ini. saya lebih mudah memahami arti dari ayat ini [bukan menafsirkan, karena saya belum memiliki kapasitas untuk itu]. dalam ayat ini Alloh memerintahkan kita untuk membelanjakan harta kita di jalan Alloh. Alloh menyebutkan “hartamu”, bagi saya ini merupakan suatu bahasa yang sangat santun. betapa Maha Pengasihnya Alloh. padahal sudah jelas kita tidak memiliki apa-apa di dunia ini. jangan harta benda, diri kita sendiripun bukanlah milik kita, tapi milik Alloh. “hartamu” yang saya pahami dari ayat ini adalah “harta yang kita usahakan”. manusia diberi kewajiban dan hak untuk mencari harta. permasalahannya, untuk apa harta itu kita kumpulkan? untuk memenuhi kebutuhan kita? Ya. untuk kebutuhan sekolah? Ya. untuk membantu sesama? Ya. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang menjadi hak dalam harta yang kita cari (yang jelas-jelas berasal dari Alloh) ialah bahwa hak dari harta itu ialah agar ia dikembalikan lagi kepada Dzat Yang Memiliki harta itu. Satu-satunya hak dari harta yang kita miliki ialah agar ia kembali pada Alloh. bagaimana caranya? Ayat ini menyebutkan agar kita membelanjakannya di jalan Alloh.
bagaimana jika kita berbelanja di pasar, di PVJ, di mall atau dimanapun? hehe. masalahnya bukan “dimana kita berbelanja” loh, tapi “apa, untuk apa, dan untuk siapa belanja tersebut”. sebelum saya lupa, saya ingin menggaris bawahi bahwa “belanja” di sini jangan diasumsikan seperti “shopaholic” karena itu tidak ada dalam Islam, hanya budaya syaitanlah yang mengajarkan kita berhura-hura.
jadi, belanja di jalan Alloh itu seperti apa? kontribusikan harta ini untuk perjuangan membela agama Alloh. itu saja. lah? lantas bagaimana kalau kita belanja baju? gak boleh? hehehe. gak kayak gitu juga siih. ini adalah bagian dari kebutuhan kita juga, niatkan untuk beribadah pada Alloh. misalnya kita membeli baju, niatkan untuk menutup aurat, bukan untuk bermewah-mewahan ataupun riya. maka dari itu cukuplah membeli baju yang sederhana dan syar’i. mengapa tak perlu yang mahal? hehehe. untuk apa sih kalau niatnya untuk dipuji manusia. berharap dipuji manusia pasti kita merasa lelah. berharaplah menggunakan pakaian mewah untuk dipuji Alloh. Pakaian mewah di sisi Alloh bukan karena merek, harga, atau bahan. bagi Alloh, hamba yang ia cintai adalah hamba dengan pakaian ketakwaan (bukan baju takwa looh)

nah, sekarang mari kita evaluasi diri kita. harta mana saja yang sudah kita belanjakan di jalan Alloh? Berapa banyak bagian harta yang kita kembalikan pada Alloh? berapa banyak kita menabung kekayaan untuk di syurga nanti? waah~ jangan sampai kita menjadi orang kaya di dunia tapi kere di akherat, rugi bandar loh. :D
figur dermawan yang paling melekat di benak saya adalah Khadidjah, Istri Rasululloh saw.. silahkan teman-teman cari dari beberapa sumber, di sana pasti menyatakan bahwa dulu Khadidjah dalah saudagar kaya raya di Mekkah. kalau sekarang mungkin beliau setara kayak pengusaha-pengusaha kaya di Indonesia. setelah menikah dengan Rasululloh, setelah Rasululloh menjadi Rasul, setelah Khadidjah menimani risalah yang Rasululloh bawa, maka tanpa keraguan sedikitpun ia mengkontribusikan hartanya di jalan Alloh. hingga pada akhirnya, dalam masa yang masih sulit saat Islam masih dimusuhi, harta Khadidjah yang tertinggal hanyalah tas kulitnya. hingga akhirnya, Khadidjah memberikan tas kulit itu agar dimasak untuk kaum muslim yang kelaparan (jelas ini kulit bukan imitasi, hehe). lantas setelah itu Khadidjah menangis. Rasululloh menghampiri istri tercinta dan bertanya “Wahai Khadidjah Istriku, mengapa engkau menagis?” Khadidjah terdiam. lalu Rasululloh bertanya kembali “Wahai Istriku, apakah engkau menangis karena hartamu habis?” Khadidjah lalu menatap Rasululloh, "Wahai kekasih Alloh, sungguh aku menangis bukan karena aku menyesali hartaku habis untuk perjuangan ini. aku menangis karena tas itu adalah harta terakhir yang kini ku miliki. setelah ini, apa lagi yang bisa ku sumbangkan untuk perjuangan ini." Allohu Akbar! saya tidak bisa berkata apa-apa, saya tidak dapat mengukur kadar cinta Khadidjah terhadap Islam. tak ada penyesalan dalam hatinya karena hartanya disikat habis dalam perjuangan, Khadidjah takut ia tak bisa menolong agama Alloh lagi setelah hartanya habis. Alloh ridha terhadap harta dan jiwa Khadidjah.
teman-teman, yuk kita sama-sama evaluasi diri kita. saat kita mencari kekayaan, tanyakan “untuk apa, untuk siapa harta ini?” mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diberi keimanan dan kecintaan terhadap Alloh, Rosul, dan agama ini. aamiin

segala bentuk kekeliruan pemahaman hanyalah berasal dari penulis. segala bentuk koreksi sangat saya nnati. terimakasih :) :)

Sabtu, 19 Oktober 2013

Lima Figur Muslimah Sejati

Khadidjah : bersuamikan Rasululloh saw., beranakan Zainab, Ummu Kultsum, Ruqayah, dan Fatimah. dan menjadi true love bagi Nabi Muhammad. perempuan pertama yang beriman terhadap risalah yang Rasulullah bawa. perempuan pertama yang berislam. istri yang berperan menjadi ibu sekaligus shahabat dalam perjuangan Rasulullah. perempuan kaya raya dunia akhirat. harta yang ia kumpulkan dan digunakan untuk perjuangan Agama Islam. Alloh Ridho terhadap perjuangan beliau.
Siti Hajar : bersuamikan Nabi Ibrahim as., berputrakan Nabi Ismail as.. Meski ia terlahir dari kalangan budak, bukan bangsawan, derajatnya sangat tinggi di hadapan Alloh. belia menjadi satu-satunya perempuan yang dimakamkan di dalam Baitulloh, di sekitar Ka’bah bersama putranya, Ismail. Perempuan yang perjuangannya dijadikan rukun bagi orang yang berhaji. ya, Sa’i dan Thawaf. perempuan mana lagi yang perjuangannya dijaikan rukun dalam berimabadah? :)
Siti Asiah : saya tidak tahu latar belakang keturunannya. yang saya tahu ia adalah Istri dari penguasa dzalim Fir’aun. dalam kondisi pemerintahan yang dzalim, ia tetap berpegang teguh dalam Islam. kedudukannya tidak menjadikan ia berpaling dari keyakinannya terhadap Alloh. baginya, keyakinan ada dalam jiwa masing-masing sesuai dengan apa yang Alloh anugerahkan. keyakinan tidak bisa dibenturkan dengan kehendak siapapun. baginya, mematuhi dan berbuat baik pada suami adalah kewajiban, namun ketaatan terhadap penguasa dzalim bukan bagian dari ketaatannya. Ia mencintai Alloh meski dalam lingkungan dzalim.
Aisyah : bersuamikan Rasulullah saw., meski tidak memiliki putra namun fihur luar biasa ayahnya, Abu Bakar ash-shiddiq yang menjadi shahabat paling setia bagi Rasululloh menjadikan Aisyah sangat luar biasa. perempuan ceria, cerdas, dan dijadikan gudang ilmu bagi para shohabat.
Fatimah az-zahra : berayahkan Rasululloh, beribukan Khadidjah, bersuamikan Ali, berputrakan Hasan&Husain. satu-satunya putri Rasul yang menjadi penerus darah Rasul, perempuan sabar seperti ibunya, cerdas seperti ayahnya.
dan keistimewaan paling luar biasa dari beliau-beliau adalah karena mereka Istiqomah dalam perjuangan menegakkan ISLAM.

bagaimana dengan kita?

Siti Hajar - Keimanan yang Mengaktivasi LOGIKA

Bismillahirrohmaanirrahiim.

beberapa menit yang lalu saya menyempatkan diri untuk membaca beberapa kisah mengenai Siti Hajar. ada apa gerangan? hehe. entahlah, mungkin karena masih dalam momen iedul Adha, jadi sering mengkaitkan Iedul Adha dengan kisah Nabi Ibrahim as. dengan putranya Nabi Ismail as.. Hanya saja karena saya perempuan, saya jadi malah cenderung mencari tahu kisah-kisah Siti Hajar. Kisah mengenai ketaatan, kesetiaan, perjuangannya terhadap Agama Islam, agama yang hanya satu-satunya dalam Ridho Alloh SWT..
teman-teman pasti sudah sangat hafal kisah bagaimana Siti Hajar yang saat itu dalam kesulitan di tengah padang pasir. saat itu putranya yang masih bayi, Ismail, menangis karena kehausan. namun karena perjalanan berat dan panas, Siti Hajar mengalami kekeringan pada asi-nya sehingga ia tidak dapat menyusui putranya. dalam kekalutan, keimanannya berkata bahwa ia harus mencari solusi. dan dengan logikanya ia mencari air. ya. air. bukan api.
jika kita mengingat-ngingat, pada zaman Nabi Ibrahim, penyembahan terhadap patung dan api sangatlah merajalela. Andaikan saat itu keimanan pada jiwa Siti Hajar tidak berkata, pasti ia akan mencari api ataupun berhala, lalu memohonkan agar anaknya tidak menangis atau agar anaknya mendadak tidak kehausan. mistis memang. ya, kisah saat itu akan menjadi mistis jika dan hanya jika Siti Hajar tidak beriman kepada Alloh.
Keimanan kuat yang terpatri dalam jiwanya menuntunnya agar bersikap tenang dalam menghadapi cobaan. dalam kestabilan pemikiran, logikanya berkata. jika tak ada asi, maka ia harus menemukan air agar anaknya tidak kehausan. setelah bersikap tenang, berdoa pada Alloh, menemukan solusi untuk mencari air, Siti Hajar tidak serta merta menangis sambil berdoa dan diam di tempat. Siti Hajar berlari mencari sumber air di tanah yang ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya. tak letihnya ia mencari sumber air untuk menyelamatkan anaknya.

jujur, saya kagum sekaligus merasa malu jika harus mencerminkan diri saya dengan Situ Hajar. sangatlah jauh dan tidak mirip. dalam kondisi serba sulit, keimanannya mengaktifkan logikanya untuk menemukan solusi. Siti Hajar tidak mengedepankan emosionalnya untuk menyelesaikan masalah. Ia berpikir dan bergerak seperti seorang laki-laki. pasti teman-teman sering mendengar kalimat ini “logika laki-laki itu 9 sedangkan perasaannya 1. sedangkan perempuan memiliki 9 emosional dan 1 logika”. entah karena pengaruh hormon atau struktur syaraf dan jumlah neuron di otak yang menyebabkan perbedan ini. Sayangnya hal ini sering dijadikan dalih saat perempuan lebih rapuh dalam menghadapi masalah. menangis, diam, jarang bergerak. ya, potensi 9 emosii - 1 logika ini sering dijadikan dalih oleh perempuan jika ia kebingungan menghadapi masalah. sayang sekali. padahal potensi perempuan tidak kalah saing loh.
kembali pada kisah SIti Hajar, jika logikanya berkata, lantas dimana letak perasaannya? adakah? ada. Naluri keibuan, perasaan cinta terhadap putranya membuat ia harus memberikan solusi bagi putranya. berangkat dari perasaan ini, ia berpikir menacari solusi. logika yang teraktivasi oleh keimanannya membuat ia mencari solusi dengan cara yang benar. coba bayangkan, jika kita dalam kondisi seperti Siti Hajar, bisa jadi kita hanya menangis dan berpasrah pada takdir. tapi tidak bagi siti Hajar. dalam doa yang mengiringi langkahnya mencari air, ia yakin bahwa pertolongan Alloh pasti ada. pasti ada. manusia memiliki hak dalam berikhtiar, takdir yang terjadi adalah urusan Alloh.
pelajaran berharga dari keimanan-kecerdasan-kepekaan-ketaatan-kepasrahan Siti Hajar dalam kisah ini ialah bahwa dapat mengedepankan logikanya dibandingkan perasaannya dalam menghadapi masalah. jangan jadikan kerapuhan perempuan sebagai bilik reyot untuk berlindung diri. jadilah perempuan kuat, sabar, taat, cerdas seperti Siti Hajar. Semoga kita bisa mengambil pelajarannya, dan segera menerapkannya dalam kehidupan kita, khususnya sebagai seorang perempuan. Aamiin.

ditulis oleh : Dilla Wulan Ningrum
Jatinangor, 19 Oktober 2013 | 14 Dzulhijjah 1434 H

Rabu, 02 Oktober 2013

sejenak tadi [sekitar beberapa menit sebelum tulisan ini dipost] saya terhenyak akan suatu hal yang selama ini bisa jadi menjadi satu bagian dari berbagai episode keluhan kita sebagai manusia.
"aah! gue salah jurusan kayaknya."
"kenapa sih jurusan gue malah belajar yang begini? padahal kan gak nyambung sama sekali."
entahlah, mungkin hal ini hanya terjadi pada diriku saja, atau mungkin juga teman-teman rasakan?
pernah suatu ketika saya mengeluh “kita kan kuliah farmasi, tentang obat dan pengobatan, kok kita malah disuruh bikin desain kemasan?”
awalnya saya mengeluh. dan keluhan ini muncul karena ketidakmampuan saya dalam mendesain. untuk penggunaan aplikasi desain sedikit-sedikit saya senang mengotak-atiknya. jadi pasalnya bukan karena tidak bisa membuat desai, tapi jiwa senin saya yang tidak cukup bagus - didominasi tingkat kemalasan yang tinggi : membuat saya menjai mudah mengeluh dalam mengerjakan tugas - yang menurut saya tidak ada kaitannya dengan Ilmu Kefarmasian.
Ya, sepertinya saya masih senang mengkotak-kotakkan sesuatu sehingga semua yang terjadi dalam hidup ini, apa yang saya pelajari di bumi ini tidak terlihat menajdi suatu kesatuan yang utuh. dan saya sadar saya SALAH.

apakah kemampuan mengobati dan kesehatan hanya boleh dipelajari oleh mahasiswa keseharan?
apakah ilmu desain hanya boleh dipelajari mahasiswa desain atau teknologi?
apakah ilmu pemerintahan hanya berhak dimiliki mahasiswa yang mendalami Ilmu Pemerintahan?
apakah agama hanya berhak dipahami mahasiswa yang mempelajari ilmu agama?
jika jawabannya YA maka kita akan terjebak dalam ruang pikir sempit yang membuat diri kita semakin sesak untuk bergerak. coba bayangkan jika kita bukanlah manusia yang kuliah [atau kita bukanlah mahasiswa]. Lantas apa yang berhak-boleh untuk kita pelajari? jika kita senantiasa mempartisi ilmu yang dipelajari berdasarkan jurusan yang kita jalani, maka kita akan menjadi robot yang hanya dijadikan pekerja. kita hanya menjadi burung yang berkicau tanpa mengetahui maknanya.
saat kita kecil, kita mempelajari banyak hal - sangat banyak padahal kita belum tahu kelak kita menjadi apa, dan mari kita garis bawahi bahwa saat kecil, saat kita mempelajari banyak hal, kita tidak mengeluh. kita tidak mengkotak-kotakan apa yang kita inginkan untuk dipelajari. pada akhirnya, apa yang kita pelajari ternyata bermanfaat besar dalam kehidupan kita sekarang.
begitupun dengan apa yang kita pelajari sekarang, yakini bahwa semua ini akan bermanfaat di hari kemudian. yakini, tidak ada yang sia-sia.

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." [QS. an-Nahl ayat 78]
dalam ayat ini Alloh menyebutkan potensi awal yang dikaruniakan-Nya kepada manusia. potensi untuk mendengar, melihat, dan potensi hati (keyakinan). Alloh tidak mempartisi bahwa potensi ini diberikan pada orang-orang tertentu. atau setiap orang hanya mendapatkan sebagian potensi ini. Alloh menganugerahkan semua potensi ini, hanya saja diantara manusia ada yang mem-fungsikannya dengan baik, mem-fungsikan dengan tidak baik, belum cukup baik mengoptimalkan fungsinya, atau sengaja mengunci potensi ini.
potensi pendengaran bukan hanya berhak diotimalkan oleh komposer, psikolog, motivator, public speaker, dsbg.
potensi melihat bukan hanya berhak dioptimalkan pelukis, pembalap, pilot, desainer, dll.
potensi hati (keimanan) tidak hanya boleh dioptimalkan oleh ustadz, ulama, kiayi, tapi oleh semua manusia.
dengan mempelajari banyak hal, artinya kita tengah mengoptimalkan fungsi-fungsi potensi yang Alloh beri untuk kita. jadi janganlah banyak mengeluh pada suatu hal yang hari ini kita belum tahu manfaatnya. tapi, jangan sekali-kali mempelajari hal yang sudah jelas kita tidak akan mendapatkan manfaatnya disana.

Mari Syukuri Nikmat yang Alloh anugerahkan dengan cara mengoptimalkan semua potensi ini. :) :) :)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More